Sedikit Cerita Dari Temen Jepang Saya…

Ternyata mengamati kelakuan dan sifat dari seseorang yang berbeda latar budaya, bahasa, dan negara adalah hal yang mengasyikan dan banyak manfaatnya. Berbicara mengenai sifat individu seseorang yang berlatar belakang beda budaya ini, saya akan menceritakan sedikit tentang kesan dan pengalaman yang saya tangkap dari sifat temen saya, yang kebetulan berwarganegaraan Jepang. Saya akan bercerita sisi-sisi lain dari sifat orang jepang yang saya temui pada diri teman saya ini. Tentu saja apa yang saya ceritakan ini tidak bisa digunakan untuk men-generalisasi-kan bahwa semua orang Jepang mempunyai sifat yang sama seperti temen saya tsb.

Beberapa minggu terakhir saya kalau makan malam selalu bareng dengan dia. Kebetulan dia tinggal di guest house yang sama dengan saya, hanya beda lantai, saya di lt 3 dan dia di lt 5. Sebenarnya dia based di Dubai, tetapi dia berada di Kuwait karena ada short term assignment selama 2 bulan disini. Berikut sifat-sifat yang bisa saya amati dan pelajari dari dia:

1. Dia sangat menghargai waktu dia sendiri dan waktu orang lain. Hal-hal kecil seperti misalnya kalau dia mempunyai janji untuk ketemu jam 19.00 misalnya di lobby, maka dia sudah ada di lobby jam 18.50 atau 10 menit lebih awal biasanya dia sudah berada di tempat dimana dia membuat janji dengan orang lain untuk bertemu. Atau klo pagi misalnya dijemput sopir jam 6.30, maka dia pasti sudah di luar lobby jam 6.20 dan sudah siap untuk dijemput. Dia tidak akan mau sopir menunggu dibawah, tapi justru dia yang menunggu sopir datang.

2. Kalau memungkinkan sebisa mungkin jarak terdekat ditempuh dengan jalan kaki. Guest house ke mall terdekat jaraknya kurang lebih 2km. Dia sering mengajak saya untuk makan malam di mall tsb dengan jalan kaki, jadi pulang-pergi kurang lebih berjarak 4km, apalagi cuaca dan suhu sudah memungkinkan karena sudah mulai memasuki winter. Saya juga senang, jadi sekalian olahraga jalan santai. Budaya hidup sehat dengan sebisa mungkin memanfaatkan waktu untuk berolahraga sepertinya sudah begitu melekat pada diri dan kebiasaan dia

3. Dia senang berbagi ilmu atau pengetahuan yang dia ketahui. Dia akan menjelaskan sedetail mungkin tentang apa yang saya tanyakan seandainya dia mengetahui tentang hal itu. Dia juga tidak sungkan-sungkan menanyakan sesuatu kepada saya seandainya dia tidak tau dan akan dengan seksama mendengarkan penjelasan dari saya. Sifat berbagi apabila dia tahu dan mendengarkan dengan seksama apabila orang lain bercerita atau berbicara itulah yang bisa saya tangkap dari diri dia.

4. Dia sangat menghormati siapapun yang menjadi pimpinan/bos. Sepertinya unsur “feodalisme” nya masih dipegang teguh. Ketika dia di Kuwait berarti bos dia ada di Kuwait bukan di Dubai. Kemaren pada saat weekend dia mau balik ke Dubai selama 2 hari, kemudian Sabtu malamnya kembali ke Kuwait. Waktu itu dia bingung karena belum pasti apakah bisa pulang ke Dubai atau tidak selama weekend karena belum mendapatkan green light dari Kuwait. Saya bilang kenapa tidak pergi saja dan tidak perlu meminta ijin, apalagi pulangnya pada saat weekend dan tidak akan mengganggu jam kerja, ditambah utk orang Jepang mereka bisa keluar masuk Kuwait kapan saja dengan visa on arrival, jadi kenapa harus nunggu ijin dari bos di Kuwait. Yang penting minggu juga sudah mulai masuk kerja di Kuwait. Dia menjawab,”tidak, selama orang Kuwait belum mengijinkan, aku tidak akan pergi weekend besok”.

5. Kalau makan selalu dihabiskan, sampai piringnya bersih, tidak ada sisa satu butir nasi pun tertinggal di piring, seolah tidak menyisakan bekas. Pernah suatu ketika saya mengajak dia untuk makan di restoran Indonesia. Dia dengan percaya diri memilih sayur pare dan sayur oseng yang pedes yang buat saya sendiri pun tidak sanggup untuk menghabiskan sayuran tersebut. Namun, dia tetap berusaha untuk menyantap makanan tersebut sampai habis. Jadi dia sangat menghargai dan menganggap bahwa apa yang dia makan adalah membawa berkah, jangan sampai disisakan dan mubazir. Kalau kebanyakan dari kita, termasuk saya sendiri klo makan ada saja kalanya tidak habis dan meninggalkan sisa. Jadi perasaan untuk menghargai rejeki sepertinya kurang. Padahal sudah ada tuntunan utk menjauhi sifat mubazir.

Pada mulanya saya tidak begitu memperhatikan hal-hal yang kecil diatas karena kelihatannya sepele. Tetapi ketika saya renungkan, banyak hal yang bisa saya pelajari dari kebiasaan temen Jepang saya ini dan coba mulai saya terapkan dan praktekkan untuk saya sendiri. Ternyata banyak manfaatnya bergaul dengan orang yang beda budaya, negara dan domain knowledge karena bisa banyak menambah wawasan dan kedewasaan diri saya 🙂 Semoga catatan ringan ini ada manfaatnya.

About WiD

Founder&Owner jogja geowisata (www.ygeotour.com) dan geodwipa teknika (www.geodwipa.com). Alumni Teknik Geologi UGM. Hobby: International Travel, Photography, Gourmet Cooking, Entrepreneurship, Blogging.
This entry was posted in Cerita-Cerita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*