Saya ingat ketika saya duduk di bangku sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas, saya pernah belajar sejarah. Salah satu topik yang menarik dari pelajaran sejarah yang saya sukai adalah cerita tentang kehidupan, bersosialisasi dan bermasyarakat masa lalu, dimana pada saat membaca bahan pokok pelajaran yang dituliskan dalam buku sejarah tadi, saya bisa membayangkan dan angan saya menerawang seolah saya berada pada jaman ketika itu.
Kita sebagai manusia abad sekarang ini bisa mengetahui dan mempelajari kehidupan bermasyarakat orang-orang terdahulu melalui catatan dan hasil budaya yang ditinggalkan orang-orang tadi. Bayangkan kalau mereka sama sekali tidak meninggalkan sedikit pun hasil peninggalan budaya mereka, kita tidak akan tahu sebenarnya bagaimana kehidupan nenek moyang kita waktu itu. Candi, arca, benteng, istana, peralatan dapur, peralatan perang, prasasti adalah salah satu diantara sekian banyak hasil kreasi budaya pada jamannya yang bisa kita lihat sampai sekarang ini. Dari sana kita bisa menerka dan merekonstruksi jejak langkah budaya orang-orang terdahulu.
Jejak kehidupan manusia abad sebelumnya biasanya bisa kita temukan melalui catatan-catatan yang ditinggalkan mereka. Semakin berkembang budaya mereka, semakin tertata jejak catatan mereka. Manusia purba meninggalkan jejak kehidupan mereka dengan cara menulis dan menggambarkan di dinding-dinding gua. Perkembangan selanjutnya adalah catatan-catatan yang bisa kita temukan tertulis di batu-batu. Kita mengenalnya sebagai prasasti. Banyak jejak-jejak budaya yang bisa kita ketahui dengan membaca prasasti ini seperti misalnya prasasti Karang Tengah yang menceritakan sejarah pembangunan candi Borobudur.
Jaman semakin maju, budaya manusia pun semakin maju. Catatan-catatan perjalanan budaya berikutnya bisa kita temukan tertulis di media lain seperti di daun lontar seperti misalnya Kitab Arjunawiwaha yang ditemukan di daerah Jawa Barat yang dituliskan sekitar tahun 1334 masehi. Dari sana kita bisa semakin detail mengetahui rekam jejak kehidupan dan budaya manusia waktu itu. Setelah bangsa Cina menemukan cara pembuatan kertas dan tinta beberapa ribu tahun yang lalu, orang kemudian beralih menuliskan kisah perjalanan kehidupan dan budayanya melalui kertas. Banyak catatan-catatan sejarah yang dituliskan dalam ribuan lembar kertas waktu itu. Dan di abad ke-21 seperti sekarang ini dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan internet, orang tidak perlu lagi menuliskan kisah perjalanan hidupnya melalui kertas, daun lontar, batu apalagi dituliskan di dinding-dinding gua. Mereka bisa dengan leluasa menuliskan apa yang ingin diceritakan tentang semua hal dan apa saja melalui internet, web, atau blog.
Inti dari semua yang disebutkan diatas adalah sebuah tulisan. Kita bisa mewariskan kepada anak cucu cicit kita kelak di kemudian hari sebuah cerita, perjalanan budaya dan kehidupan tentang apa yang kita rasakan saat ini, apa yang kita alami, apa yang kita rencanakan, dan lain sebagainya melalui sebuah tulisan. Orang-orang abad ke-9 ketika membangun candi Borobudur, mereka mempunyai inisiatif menuliskan rangkaian-rangkaian kata yang dipahat di sebuah bongkahan batu, mungkin mereka menginginkan agar anak keturunannya kelak mengetahui tentang apa yang dikerjakannya waktu itu dengan membangun sebuah candi. Catatan-catatan perjalanan yang dituliskan para penjelajah seperti Columbus, Laksamana Ceng Ho, dan tokoh-tokoh penjelajah lainnya mungkin memang sengaja ditulis oleh mereka untuk diwariskan kepada keturunannya kelak di kemudian hari agar mereka tahu kisah perjalanan mereka.
Saya sekarang sedang menulis, akan menulis, dan terus menulis. Saya sengaja membeli domain dan membuat blog untuk menuangkan segala macam ide, pikiran, dan rencana ke dalam sebuah tulisan. Saya akan terus menulis dan menulis tentang apa saja di dalam blog saya ini. Blog ini saya istilahkan sebagai prasasti kehidupan saya. Saya akan coba pelihara blog ini dan kemudian mewariskan kepada anak cucu saya kelak di kemudian hari dan berpesan kepada mereka untuk tetap terus memelihara blog ini. Saya membayangkan suatu saat nanti, puluhan bahkan ratusan atau ribuan tahun yang akan datang, ketika anak keturunan saya masih bisa membaca tulisan-tulisan yang pernah saya postingkan di dalam blog ini, pasti mereka akan menjadi tahu dulu nenek moyangnya sedang memikirkan apa, merencanakan apa, dan melakukan apa 🙂
Saya sedang menulis, akan menulis, dan terus menulis supaya kelak anak cucu saya bisa membaca kisah perjalanan hidup saya. Bagaimana dengan anda?