Saya akan menuliskan secara bersambung sebuah cerita perjalanan saya di penghujung tahun 2011, menyambut dan memasuki awal tahun 2012. Saya tidak menghabiskan pergantian tahun baru kali ini di sebuah resort, tempat wisata, atau tempat pesta, melainkan melalui sebuah cara menurut versi saya sendiri, yang sangat boleh jadi orang lain akan menghindari untuk mencobanya 🙂
Jumat, 30 Desember 2011
Sepagian saya menyelesaikan preliminary assessment report yang harus saya kirimkan sebelum cuti. Setelah selesai sholat Jumat, saya dan beberapa temen jalan-jalan keliling mal. Seperti biasa menjelang pergantian tahun, banyak gerai yang menawarkan diskon menarik. Sedianya saya hanya ingin mencari beberapa titipan oleh-oleh dari keluarga saya, namun akhirnya saya tertarik juga membeli dompet merk longchamp karena kebetulan teman mampir kesana dan mendapatkan gerai tersebut sedang ada diskon 30%. Jadilah saya terbawa untuk membeli barang di gerai ini.
Rasa capek dan letih menghinggapi diri saya setelah seharian jalan-jalan di mall. Jam menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat ketika saya sampai di apartemen kembali. Biasanya kalau sehabis kerja dan sekedar ingin rileks, yang saya lakukan adalah menonton TV sambil minum secangkir teh hangat dan penganan seadanya. Ruangan yang ada di photo sebelah kiri adalah tempat saya menonton TV. View yang bisa dilihat dari jendela tersebut adalah laut dan kalau pagi hari saya sering menikmati sunrise dari ruangan ini. Sambil nonton TV saya beres-beres apartemen dan mulai packing. Saya tidak sadar TV masih menyala ketika saya terbangun di pagi harinya. Ternyata saya tertidur di sofa di depan TV, mungkin karena rasa capek sehingga serasa badan tidak kuat lagi untuk sekedar berjalan ke tempat tidur.
Sabtu, 31 Desember 2011
Sekarang masih suasana musim dingin. Pagi tadi saya buka jendela ruang TV dan sempat mengabadikan sunrise seperti photo sebelah kiri; sebuah maha karya dari Tuhan Yang Maha Besar dari sekian banyak karya-Nya yang begitu agung untuk kita umat manusia. Saya benar-benar menikmati pagi itu dengan pemandangan sunrise di depan saya. Tidak henti-hentinya saya berdecak dengan pemandangan ini dan tidak terasa perasaan saya terguncang, betapa kecilnya saya di hadapan Tuhan. Betapa sombongnya saya selama ini. Kemampuan dan ilmu saya ternyata masih sangat-sangat jauh untuk bisa disombongkan. Semoga saya lebih bisa untuk bersyukur dan terus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan.
Saya menjadi teringat masih mempunyai beberapa hal yang harus saya selesaikan saat ini juga, karena nanti malam bisa sekalian saya titipkan ke teman untuk diserahkan ke kantor hari Senin besok. Ya apalagi kalau bukan claim expense temporary living. Lumayan jumlahnya, kalau sampai kelupaan menyelesaikan dan menyerahkan besok Senin, bisa-bisa akhir bulan ini claim-nya tidak masuk ke rekening saya :).
Selain menyelesaikan expense claim di atas, karena malam nanti saya sudah akan terbang, biasanya yang sering saya lakukan adalah melakukan online checkin dari rumah, untuk menghindari antrian panjang di bandara dan untuk memastikan kalau saya mendapatkan seat di maskapai yang bersangkutan. Selain itu saya bisa bebas memilih tempat duduk seperti yang saya kehendaki. Kalau naik pesawat dengan perjalanan panjang lebih dari 3 jam ke atas, saya lebih suka memilih kursi yang terletak di gang atau aisle seat dengan demikian kalau saya ingin ke toilet tidak akan mengganggu tidur orang lain, dan saya bisa bebas sebebas-bebasnya untuk hilir mudik pergi ke toilet. Maklum agak beser apalagi kalau naik Emirates, snack dan minuman jalan terus sepanjang perjalanan hehe.
Sehabis maghrib saya diajak temen untuk ikut menghadiri acara yang diselenggarakan
oleh pihak KBRI yang mengundang beberapa perwakilan organisasi orang Indonesia yang ada di negara ini. Kebetulan saya adalah sekretaris IATMI chapter setempat, kepengurusan yang baru saja dibentuk 2 minggu yang lalu. Acara diselenggarakan di Regency Hotel dan berisi tentang informasi dan progress yang dilakukan oleh pihak KBRI selama tahun 2011 yang disampaikan kepada seluruh perwakilan masyarakat Indonesia yang ada disini. Jam 21.30 acara selesai dan kami langsung meluncur ke rumah salah seorang teman Indonesia yang juga sedang mengadakan acara kumpul-kumpul di rumahnya untuk menyambut pergantian tahun.
01 Januari 2012
Acara diisi dengan kumpul-kumpul beberapa keluarga ngobrol sana-sini, ngalor ngidul sambil barbeque-an, bakar sate dan bakar jagung. Ada kurang lebih 10 orang dan atau keluarga yang ngumpul bareng di balkoni lantai atas apartemen temen saya tersebut. Karena sedang musim dingin, terasa sekali dinginmya menusuk tulang. Hidangan beberapa macam barbeque cukup bisa untuk menghangatkan badan kami. Tepat jam 00 tahun 2012 kami semua mendengar dan
melihat permainan kembang api dari kejauhan sana. Masing-masing orang mencoba mengabadikan percikan kembang api yang menghiasi langit malam itu menandai pergantian tahun baru. Selamat tinggal tahun 2011 dan selamat datang tahun 2012. Saya perhatikan anak-anak kecil teriak kegirangan, semangat sekali melihat permainan kembang api jauh di atas langit sana. Saya mencoba mengabadikan dengan kamera pocket, namun sepertinya kecepatan percikan kembang api tersebut jauh lebih cepat dari pada kecepatan shutter lensa kamera saya sehingga hasil potretannya tidak sebagus misalnya kalau diabadikan dengan menggunakan kamera DSLR.
Tepat pukul 00.30 saya pamitan kepada teman-teman yang lainnya yang masih menikmati suasana pergantian baru di balkoni tersebut. Saya harus berangkat ke bandara dan diantar teman yang lainnya. Perkiraan kita sebelumnya jalan menuju ke arah bandara akan macet oleh keramaian orang yang sedang merayakan pergantian tahun baru ini. Namun diluar dugaan, ternyata jalanan sangat lengang dan lancar sampai menuju bandara.
Kuwait international airport tidaklah sebesar dan semegah airport di Dubai, Bangkok, Changi, KLIA, bahkan dengan Jakarta masih kalah jauh. Saya menggunakan jasa porter untuk menuju ke arah counter check-in. Selesai checkin dan melewati antrian imigrasi saya langsung menuju ke business lounge. Walaupun tiket Emirates saya di kelas ekonomi, tetapi saya masih bisa menikmati business lounge, karena saya pemegang gold skywards. Ternyata Emirates sekarang mempunyai business lounge sendiri di Kuwait international airport, namanya Derwaza Lounge. Pada saat saya masuk lounge ini suasananya sangat sepi. Mungkin karena semua orang sudah bepergian sebelum tanggal 1 Januari.
Ada dua sisi di Derwasa Lounge, sebelah kiri setelah pintu masuk adalah tempat rileks, istirahat sambil nonton TV dan ditemani dengan minuman dan makanan ringan. Ada koneksi Wi-Fi gratis disediakan disini, sehingga tadi saya sempat menilpon menggunakan Skype dan menghidupkan BlackBerry dengan memanfaatkan koneksi Wi-Fi. Sedangkan di sebelah kanan adalah buffet area dimana kita bisa memesan makanan dan minuman yang disediakan disitu.
Pagi ini menu yang disediakan ada beberapa macam, tetapi karena tadi saya sudah banyak makan di acara KBRI dan di rumah teman, jadi di lounge sini saya hanya memesan jus mangga dan secangkir teh. Sambil menunggu waktu boarding tiba saya isi dan sempatkan waktu untuk mengupdate blog. Boarding jam 03.05 dengan tujuan Dubai. Waktu tempuh diperkirakan kurang lebih 1.30 jam dan perkiraan waktu sampai di Dubai kurang lebih jam 6.25 Dubai time (Dubai lebih cepat 1 jam daripada Kuwait). Dan nanti akan ada waktu transit kurang lebih 4 jam untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Jakarta. Saya habiskan secangkir teh dilmah saya, karena waktu boarding semakin dekat
. Saya menjadi penggemar minum teh belum lama. Dulu kalau saya minum teh harus memakai gula supaya terasa manis, karena saya tidak suka rasa pahit teh. Sekarang kebalikannya, saya kalau minum teh lebih suka tidak mencampurkan dengan gula, dengan demikian saya bisa lebih bisa merasakan beberapa varian teh yang berbeda-beda, misalnya rasa teh camomile tentu akan berbeda dengan english breakfast atau earl grey. Atau perbandingan lebih jauh lagi, saya sekarang bisa membedakan varian teh earl grey brand A dengan earl grey brand B, dan seterusnya.
Pesawat Emirates yang membawa saya dari Kuwait mendarat tepat waktu di Dubai. Waktu 1.30 jam tadi saya pergunakan secara efektif untuk tidur. Begitu saya terbangun pesawat sudah mendarat. Saya sangat salut dengan Dubai, salah satu anggota keemiran Uni Arab Emirate. Dia mampu menjelma menjadi salah satu kota termegah, terpesat pembangunannya, dan menjadi pusat kegiatan ekonomi dunia. Banyak perusahaan-perusahaan besar internasional memindahkan head quarters-nya ke Dubai.
Dubai menjadi Hub maskapai penerbangan internasional Emirates airline. Mereka khusus membangun terminal 3 sebagai salah satu terminal terbesar dan terlengkap di dunia. Kadang saya berpendapat, kemajuan salah satu negara bisa dilihat dari kemegahan terminal atau bandara internasionalnya. Lihatlah beberapa negara yang mempunyai bandara internasional yang megah, lengkap dan modern dan coba kita korelasikan dengan kemajuan negara tersebut; misalnya Singapore, Malaysia, UAE, Bangkok, Jepang, dan masih banyak contoh lagi. Dubai international airport khususnya terminal 3, karena menjadi hub Emirates, bisa kita lihat suasana di dalamnya sangat ramai. Ada berapa ribu orang setiap harinya memadati terminal 3 ini. Sebuah pontesi pasar yang lainnya tercipta dari sini. Bisa kita liat bagaimana Duty Free yang ada di Dubai ini. Di salah satu dinding di terminal 3 digambarkan sejarah perkembangan Emirates dan Hub-nya. Disana kita bisa membaca awal mula berdirinya Emirates airline sampai sekarang menjadi salah satu maskapai internasional terbaik di dunia.
Saya kadang penasaran untuk mengetahui lebih detail bagaimana sebuah operasi di sebuah bandara internasional sekelas Dubai International Airport ini dijalankan. Bagaimana mereka mengatur lalu lintas pesawat, penumpang, dan barang dari penumpang itu sendiri. Pastinya dibutuhkan sebuah keahlian project management, change management, time management yang dijalankan oleh para profesional dengan high skill di masing-masing bidangnya.
Saya kalau sedang transit di Dubai, seperti yang pernah saya tuliskan pada posting-an yang lainnya di blog saya ini, selalu mampir ke Emirates Business Lounge, karena disana saya bisa mampir mandi dan tentu saja sarapan, dan tentu saja bisa lebih rileks menghabiskan waktu transit ini. Selain ada Wi-Fi connection, di lounge ini juga ada ruangan internet dengan kurang lebih 14 komputer. Ruangan internet ini letaknya di sebelah buffet area. Kita bisa dengan bebas berselancar di dunia maya, membuka situs jejaring sosial atau mengupdate blog seperti yang saya lakukan sekarang.
Tadi pagi keberangkatan Emirates ke Jakarta diberangkatkan melalui Gate 216. Saya perhatikan banyak juga penumpangnya pada hari ini. Mungkin mereka sebagian masyarakat Indonesia yang merayakan natal dan tahun baru di luar negeri, atau memang baru balik cuti pada tanggal 1 Januari ini seperti halnya saya. Saya juga melihat banyak juga diantara para penumpang adalah wisatawan luar negeri. Kadang seringkali saya berharap penumpang di kelas ekonomi penuh, karena dengan demikian ada kesempatan kursi saya atau tiket saya di kelas ekonomi akan diupgrade ke kelas bisnis. Sudah sangat sering tiket ekonomi yang saya pegang diupgrade ke bisnis kelas gratis tanpa bayar sepeserpun. Demikian pula yang saya harapkan hari ini. Pada saat tiket ekonomi yang saya pegang ini dicek di komputer oleh petugas
counter check in di depan ruang tungga Gate 216, ternyata mereka tidak menemukan datanya. Dalam hati saya bersorak, ini pertanda bagus, berarti tiket saya diupgrade ke kelas bisnis. Dan dugaan saya tepat, betul tiket ekonomi saya diupgrade ke kelas bisnis gratis tanpa bayar seperpun. Wahh rejeki di tahun baru nih..semoga pertanda baik rejeki-rejeki yang lain akan datang dengan sendirinya kepada saya di tahun 2012 ini :). Kabin kelas bisnis Emirates enak, luas, bisa rebahan serebah-rebahnya senyaman posisi tidur di tempat tidur biasa. Ada massage menu yang bisa disetel kecepatan dan style-nya, menambah kenyamanan duduk di kabin kelas bisnis ini. Saya pernah merasakan duduk di kelas bisnis di beberapa maskapai internasional diantaranya Qatar Airways, Etihad, dan Emirates dan semuanya rata-rata diupgrade secara gratis hehe. Mungkin ini salah satu manfaat ketika kita mengikuti program frequent flyer dari maskapai penerbangan tersebut dan kita sudah menjadi member silver ataupun gold.
Pukul 21.30 pesawat Emirates landing tepat waktu di bandara Soekarno Hatta. Dan saya tidak merasa terlalu capek, orang duduk di kelas bisnis juga hehe. Antrian imigrasi lumayan lancar, jadi saya bisa dengan cepat langsung menuju ke karosel mengambil bagasi. Karena pada saat checkin saya menggunakan gold member, maka bagasi yang saya bawa diberikan tag priority bag, dengan demikian keluar dari convey belt-nya juga cepat. Saya membawa 2 bagasi, salah satu bagasi saya dicoret kapur seperti tampak pada photo di atas :). Di posting sebelumnya sudah pernah dijelaskan kenapa dan harus bagaimana menyikapi kalau ada bagasi kita yang ditandai kapur. Benar adanya tas tersebut diminta petugas untuk dimasukkan ke dalam xray scan, namun tidak demikian dengan tas saya yang berwarna biru, karena tidak ditandain kapur. Petugas tidak meminta membuka tas saya setelah keluar dari mesin x-ray scanner.
Sesaat keluar dari terminal kedatangan 2D, handphone saya berdering. Ternyata Bapak
temen saya sudah menunggu di luar. Ada temen yang nitip barang untuk disampaikan kepada keluarganya di Jakarta. Saya melihat dari kejauhan seorang bapak berambut putih tersenyum melihat saya. Mungkin temen saya sudah mendiskripsikan ciri-ciri fisik saya sehingga bapak ini langsung bisa mengenali saya. Begitu dekat saya dipeluk beliau, ada perasaan rasa berterima kasih terpancar dari tatapan mata beliau kepada saya. Perasaan terharu menjalar di relung hati dan saya bersyukur bisa membantu sesama teman Indonesia yang berada di perantauan.
Setelah saya serahkan titipan temen saya tadi, dengan perasaan lega dan bahagia saya melangkahkan kaki ke arah transit hotel yang terletak di antara terminal kedatangan 2D dan 2E. Sudah tidak ada lagi pesawat lanjutan, karena Jakarta bukan tujuan akhir. Saya harus menginap semalam di Jakarta. Saya bersyukur ternyata masih ada kamar, apalagi malam ini masih tanggal 1 Januari. Malam ini saya harus istirahat dan tidur secepatnya, supaya besok bisa bangun pagi-pagi dan tidak kesiangan. Pesawat saya selanjutnya berangkat dari Jakarta jam 6 pagi.
02 Januari 2012
Pesawat Garuda yang saya naiki Alhmadulillah dengan selamat berhasil landing di Bandara Internasional Adisucipto, Jogjakarta. Kota dimana saya tinggal, dimana saya dilahirkan, menempuh pendidikan, dan kota dimana orang-orang yang saya cintai dan hormati tinggal disana. Begitu anda semua menginjakkan kota Jogja, keramahan dan keiklasan akan menyambut kedatangan anda untuk berkunjung disini sehingga anda akan selalu merasa betah dan nyaman untuk berlama-lama tinggal di kota Jogja. Begitu pula yang saya rasakan saat sekarang ini. Saya selalu nyaman begitu menginjakkan kaki saya di Jogja 🙂
Sekali lagi saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2012. Semoga tahun ini kita bisa mendapatkan sesuatu dan menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya