Saya Kembali Mudik Merayakan Lebaran di Kampung…

Tahun 1434 H ini adalah tahun ketiga saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Kuwait. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di minggu-minggu terakhir bulan Ramadhan seperti halnya masyarakat Indonesia lainnya yang berada di Kuwait, saya juga bersiap-siap mudik pulang kampung untuk merayakan lebaran di Indonesia. Untuk kisah mudik saya tahun 1433 H kemaren bisa dibaca di link berikut Saya Juga Mudik Mau Merayakan Lebaran di Kampung….

2013-08-01 16.37.52Sudah sedari minggu pertama bulan puasa, saya sudah reservasi tiket Kuwait – Jakarta dan Jakarta – Jogja untuk antisipasi supaya tidak kehabisan tiket. Dari Kuwait – Jakarta seperti biasanya saya menggunakan Emirates. Sedangkan dari Jakarta – Jogja menggunakan Garuda. Barang bawaan saya untuk mudik tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak terlalu banyak, hanya 2 tas travel kecil. Karena memang tidak banyak oleh-oleh yang dibawa. Lagian saya praktis setiap bulannya 1-2 kali sebenarnya sering pulang ke Ind0nesia heheh.

Saya juga menargetkan sebelum pulang ke Indonesia sebisa mungkin harus bisa menyelesaikan atau Khatam Quran. Alhamdulillah pulang kantor hari Kamis, 1 Agustus 2013 sore saya bisa menyelesaikan sampai juz 30. Plong dan tenang rasanya. Di Kuwait, kemeriahan suasana mudik menurut saya gemanya lebih banyak dirasakan oleh masyarakat2013-08-01 16.36.54 Indonesia. Kita orang Indonesia jauh-jauh hari benar-benar memikirkan bagaimana sebisa mungkin untuk pulang ke Indonesia sekedar untuk bisa berlebaran dengan sanak saudara di rumah. Penduduk lokal ataupun expat dari negara muslim lainnya yang bermukim di Kuwait sepertinya menyambut Idul Fitri dengan perasaan biasa-biasa saja, tidak ada gereget, tidak ada suasana kemeriahan yang biasa dirasakan seperti halnya kalau kita orang Indonesia merasakannya. Ternyata di Middle East, Idul Fitri dirayakan tidak semeriah ketika mereka merayakan Idul Adha. Tidak ada tradisi mudik seperti yang kita rasakan di Indonesia. Jadi kebalikan dengan kita di Indonesia. Kalau masyarakat Indonesia biasanya merayakan Idul Fitri lebih meriah dibandingkan Idul Adha.

Ada beberapa teman Indonesia yang saya kenal yang sama-sama akan mudik pada tanggal 1 Agustus 2013 petang. Dan salah satu di antaranya bahkan dari Kuwait sampai ke Jogja benar-benar satu pesawat dengan saya. Nama beliau Dodi, seorang Drilling Engineer pegawai Chevron yang ditugaskan di Kuwait sejak awal 2011 kemaren. Kebetulan keluarganya sudah pulang ke Indonesia terlebih dulu dari awal bulan puasa.

Pesawat Emirates dari Kuwait jadwal kerangkatan jam 22.30. Waktu berbuka puasa di Kuwait pada tanggal 1 Agustus 2013 jatuh pada jam 18.43. Praktis tidak ada waktu banyak untuk menikmati buka puasa. Saya hanya sempat minum teh hangat dan beberapa biji kurma sebagai menu buka puasa, sesudahnya langsung berangkat ke bandara. Sesampai di bandara, sambil menunggu waktu boarding, saya dan Dodi mampir ke salah satu konter resto yang ada di dalam terminal keberangkatan bandara internasional Kuwait. Ternyata Dodi juga hanya sempat berbuka puasa dengan teh hangat dan kolak. Sambil menikmati santap buka buasa di bandara, kami ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja. Tepat jam 22.30 pesawat Emirates terbang membawa kami berdua ke Dubai. Dari Dubai kami harus ganti pesawat Emirates yang lain yang terbang menuju Jakarta.

2013-08-02 01.33.22Tepat pukul 1.00 dini hari waktu Dubai, kami mendarat di Dubai. Connecting flight ke Indonesia akan diberangkatkan sekitar jam 4 pagi. Masih ada waktu kurang lebih 3 jam selama transit. Saya bilang ke Dodi untuk mencari konter air minum atau kopi untuk menu sahur, karena saya sendiri masih kenyang dengan menu berbuka di bandara Kuwait ditambah menu makanan selama dalam perjalanan dari Kuwait ke Dubai, pun demikian yang dirasakan temen saya. Dia juga masih kenyang. Akhirnya kami berdua menemukan konter cafe yang tidak terlalu ramai dan letaknya tidak terlalu jauh dengan Gate Emirates penerbangan ke Jakarta. Saya memesan mocca dan air putih saja. Sambil menikmati menu santapan “sahur”, kami secara bergantian pergi ke mushola untuk sekedar menunaikan sholat Isya yang memang baru sempat kami laksanakan ketika menunggu waktu transit di bandara internasional Dubai.

Dengan sedikit bercanda saya bilang ke temen saya, semoga penerbangan ke Jakarta kali2013-08-02 03.25.38 ini penuh, sehingga ada kesempatan tiket kelas ekonomi yang saya pegang di-upgrade gratis ke kelas bisnis. Temen saya bertanya kenapa bisa begitu. Saya jelaskan alasannya kenapa. Berdasarkan pengalaman yang saya alami selama ini, ketika kelas ekonomi sudah penuh dan kelas bisnisnya masih ada seat, maka penumpang yang memegang frequent flyer silver ke atas ada kemungkinan seat-nya akan di-upgrade ke kelas bisnis, sehingga kelas ekonomi yang ditempati penumpang ini sebelumnya bisa dijual oleh maskapai tersebut kepada calon penumpang yang lainnya. Bagaimana teknis mekanisme upgrade-nya saya tidak tahu pasti. Saya baru tahu kalau tiket saya di-upgrade atau tidak pada saat waktu boarding tiba. Ketika checkin di bandara keberangkatan asal tiket yang diberikan petugas checkin ke saya pun masih menunjukkan kelas ekonomi. Pada saat waktu boarding tiba, petugas boarding akan meminta tiket penumpang untuk dibaca dengan barcode reader. Nah waktu itulah saya akan tahu apakah tiket saya di-upgrade atau tidak. Kalau tiket yang saya pegang bisa dibaca oleh barcode reader berarti saya masih berada di kelas ekonomi. Artinya nomer e-tiket (bukan nomer tempat duduk) saya tersebut sudah terdaftar di sistem mereka. Tetapi kalau misalnya tiket ekonomi yang saya pegang tidak bisa dibaca oleh barcode reader, 2013-08-02 03.38.07artinya nomer e-tiket kelas ekonomi yang sebelumnya saya pegang sudah dijual kepada penumpang kelas ekonomi yang baru, dan saya di-upgrade ke kelas bisnis. Dan ternyata benar saya di-upgrade ke kelas bisnis. Temen saya yang pada saat boarding berada persis di belakang saya cuma bisa senyum-senyum melihat dugaan saya menjadi kenyataan. Ternyata memang benar, penumpang dengan tujuan ke Jakarta penuh. Tidak hanya oleh penumpang Indonesia sendiri, tetapi saya lihat banyak sekali turis-turis asing yang berangkat liburan ke Indonesia. Ada kebanggaan yang terbersit dalam diri saya melihat pemandangan seperti ini. Indonesia semakin banyak dikenal oleh penduduk masyarakat dunia lainnya sebagai pilihan destinasi wisata.

Dengan duduk di kelas bisnis, perjalanan mudik selama 7-8 jam dari Dubai menuju Jakarta2013-08-02 04.08.33 terasa lebih nyaman. Walaupun di kelas bisnis banyak ditawarkan ragam pilihan makanan dan minuman, Alhamdulillah saya tidak tergoda untuk membatalkan puasa saya. Saya masih tetap puasa heheh. Saya pernah menuliskan suasana duduk di kelas bisnis Emirates. Sepanjang perjalanan untuk menghabiskan waktu supaya berlalu lebih cepat, apalagi ketika duduk di kelas bisnis dan saya tidak bisa makan dan minum heheh, yang saya lakukan adalah nonton beberapa film dan tentu saja tidur. Paling tidak saya masih lebih nyaman dibandingkan penumpang lainnya yang tetap berusaha mempertahankan puasanya dan mereka duduk di kelas ekonomi. Jadi tentunya tidak ada alasan sama sekali bagi saya untuk tergoda dan membatalkan puasa. Alhamdulillah sampai pesawat Emirates mendarat di Jakarta kurang lebih pukul 16.00, puasa saya masih full..

Saya kembali ketemu Dodi di bawah, pada saat kami akan mengambil bagasi. Dia bertanya apakah saya masih puasa dan tidak tergoda membatalkannya. Saya hanya senyum-senyum saja mendengarkan pertanyaan si Dodi. Kami berdua masih harus meneruskan perjalanan dengan pesawat lanjutan menuju ke Jogja dengan Garuda keberangkatan pukul 18.25 WIB. Selesai mengambil bagasi Emirates, kami langsung menuju ke terminal keberangkatan 2F. Kebetulan saya menggunakan Garuda kelas eksekutif. Namun karena waktu boarding yang tertera di tiket jam 18.05, praktis saya tidak bisa mampir ke Garuda executive lounge, walaupun masih ada sisa waktu 1.5 jam selama transit. Artinya saya harus berbuka ketika berada di ruang tunggu. Salut buat Angkasa Pura yang menyediakan menu takjil buka puasa gratis kepada penumpang. Menu takjil berapa segelas air minum kemasan, sepotong kue, dan 3 biji kurma. Sangat-sangat cukup untuk berbuka puasa. Toh nanti ketika di dalam pesawat saya masih bisa bersantap dengan menu yang dibagikan di kelas eksekutif Garuda.

Pesawat Garuda yang kami tumpangi mendarat di Jogja 1 jam lebih lambat dari jadwal yang direncanakan. Alhamdulillah akhirnya perjalanan mudik saya lancar dan selamat sampai tujuan tanpa ada halangan yang berarti. Tidak lupa saya menyalami Dodi dengan saling mengucapkan selamat Idul Fitri. Perjalanan saya dan Dodi harus berpisah disini, menuju rumah masing-masing……

About WiD

Founder&Owner jogja geowisata (www.ygeotour.com) dan geodwipa teknika (www.geodwipa.com). Alumni Teknik Geologi UGM. Hobby: International Travel, Photography, Gourmet Cooking, Entrepreneurship, Blogging.
This entry was posted in Cerita-Cerita and tagged , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Saya Kembali Mudik Merayakan Lebaran di Kampung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*