Sebuah Cerita tentang Thali, Sajian Menu Vegetarian dari India Selatan

Saya sudah dua kali ini diajak salah seorang temen India untuk mencoba menikmati salah satu sajian menu vegetarian yang disebut thali, di dua buah restoran India khusus vegetarian. Menu thali ini umum dijumpai di daerah India bagian selatan, menunya disajikan dalam beberapa nampan kecil yang  dihidangkan dalam sebuah nampan besar. Nampan-nampan kecil ini berisi beberapa kuah kari yang terbuat dari beberapa bahan yang berbeda, yoghurt, manis-manisan atau irisan buah sebagai pencuci mulut dan sup. Saya menikmati menu Thali ini di dua buah restoran India yang berbeda. Setelah saya amat-amati ternyata cara penyajiannya hampir sama. Hanya saja ada sedikit perbedaan. Di satu restoran nampan besarnya tidak beralaskan daun pisang, sedang di restoran yang satunya lagi nampan besarnya diberi alas daun pisang. Kata temen saya, di India bagian selatan pada umumnya orang menikmati menu makan dengan beralaskan daun pisang.

Pada saat thali dikeluarkan oleh pelayan, biasanya akan disajikan pertama kali tanpa nasi, namun dihidangkan dengan dua-tiga potong roti hangat (saya lupa namanya) dan keripik (rasanya seperti keripik yang terbuat dari sari pati beras). Cara makannya adalah, roti disobek-sobek sebesar sesuai selera kita, kemudian dioleskan ke nampan-nampan kecil berisi kari-kari tersebut, sambil sesekali dinikmati dengan keripiknya. Setelah roti habis, pelayan akan menanyakan apakah nasi bisa mulai dihidangkan. Mereka akan menghidangkan nasi dengan jumlah porsi tidak terbatas, sekuat kita. Kalau satu-dua centong masih kurang, kita bisa minta tambah sampai beberapa kali centong gratis, sampai benar-benar perut tidak muat lagi hehe. Nah pada saat nasi mulai dihidangkan, pelayan akan menuangkan nasi tepat di tengah-tengah nampan besar. Kemudian cara menyantapnya adalah menuangkan beberapa kari dan sup yang ada di nampan-nampan kecil tadi dicampur jadi satu dan diaduk bersama-sama nasi tersebut dan sesekali dicampur dengan yoghurt. Sebagai pencuci mulut biasanya disajikan beberapa irisan buah dan bubur manis. Dari dua kali kesempatan menikmati menu thali ini, saya selalu menyantap habis dengan ekstra tambahan beberapa centong nasi (tambah ndut nih, gimana ga ndut menu thali sebesar gentong gitu haha).

Nah, tadi malam sesaat setelah selesai menyantap thali, perasaan ingin tahu saya muncul. Saya tanya ke teman saya ini. Dia berasal dari Gujarat, India. Berapa kira-kira prosentase dari total jumlah penduduk India yang memilih menjadi vegetarian. Dia menjawab 46% dari total populasi penduduk India adalah vegetarian (India adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah Cina). Kemudian saya bertanya kembali, menjadi seorang vegetarian artinya tidak menyantap bahan olahan hewani, tetapi kenapa di menu thali disajikan yoghurt, dimana yoghurt ini dibuat dari fermentasi susu sapi/kambing. Kemudian dia menjelaskan, ada dua aliran vegetarian, yaitu vegetarian tidak murni, dan vegetarian murni. Walaupun disebut vegetarian tidak murni, bukan berarti kelompok ini setengah-setengah menjalankan pilihannya sebagai seorang vegetarian. Mereka hanya menyantap non vegetarian menu berupa yoghurt dan susu. Selebihnya santapan sehari-hari adalah murni vegetarian. Sedangkan kelompok vegetarian murni, biasanya mereka tidak mau makan di restoran, namun memasak menu vegetarian sendiri, menghindari semua hasil olahan hewani, bahkan tidak makan garlic (bawang putih) dan onion (bawang merah). Mereka memilih memasak menu makanannya sendiri, karena mereka khawatir apabila membeli menu makanan vegetarian dari restoran, ditakutkan olahannya sudah tercampur dengan menu non vegeratian. Selain itu mereka ingin memasak dengan perasaan dan hati tenang, tidak terburu-buru, iklas dan senang hati yang hasil masakannya akan dihidangkan untuk semua anggota keluarganya. Kata teman saya, biasanya kelompok yang memegang teguh sebagai seorang vegetarian murni ini beberapa kelompok orang yang sudah mulai meninggalkan kehidupan duniawinya dan jumlahnya tidak begitu banyak dibandingkan kelompok vegetarian yang lainnya.

Rasa keingintahuan saya bertambah. Saya kembali lagi bertanya kepada dia apa latar belakang dia memilih menjadi seorang vegetarian. Dia mengatakan, pilihan menjadi seorang vegetarian baru dia lakukan 15th lalu. Sebelumnya dia adalah seorang pemakan daging juga, terutama penggemar ayam. Kata dia kembali, pada umumnya di India, ketika kita memesan menu hidangan ayam, kita bisa memilih ayam hidupnya, dan melihat cara pengolahannya (termasuk cara penyembelihannya). suatu saat ketika dia pergi ke sebuah restoran dan memesan hidangan ayam goreng, dia merasa kasihan dengan nasib si ayam itu. Kenapa dia yang menentukan hidup dan matinya si ayam tadi. Dari sanalah perasaan kasihan dia muncul dan pada saat itu dia langsung memutuskan untuk beralih menjadi seorang vegetarian sampai sekarang bersama-sama istri dan anak-anaknya. Di samping itu alasan menjalani sebagai seorang vegetarian dia dapatkan dari arahan gurunya di pelatihan meditasi/yoga. Kata guru itu olahan-olahan hewani akan memberikan efek kepada tubuh untuk mencerna makanan tersebut lebih lambat, yang mengakibatkan pikiran dan hati tidak bisa berkonsentrasi pada saat melakukan meditasi. Berbeda dengan masakan non-hewani, tubuh dengan cepat akan bisa mencerna makanan tersebut, menjadikannya energi positif, tubuh menjadi lebih sehat dan akibatnya pikiran bisa berkonsentrasi pada saat melakukan meditasi. Karena bisa bermeditasi dengan baik, maka akan memunculkan energi positif yang kuat dari dalam diri yang menyebabkan segala tindakan kita menjadi positif, sehat jasmani dan rohani, bermanfaat untuk diri sendiri, sesama dan lingkungannya.

Saya melanjutkan pertanyaan ke dia, apa yang akan terjadi seandainya ada seorang anak yang tidak mau mengikuti jejak orang tuanya menjadi seorang vegetarian. Teman saya ini menjelaskan, pilihan menjadi seorang vegetarian atau tidak adalah hak masing-masing individu, tidak bisa dipaksakan karena memang bukan suatu pilihan yang harus dipilih. Menjadi seorang vegetarian adalah kemantapan kehendak yang berangkat dari diri sendiri.

Dalam hati saya berkata,  setelah menikmati sajian menu thali, sepertinya saya mulai jatuh cinta dengan menu vegetarian, namun sepertinya saya belum bisa meninggalkan menu olahan hewani yang juga sangat saya gemari 🙂

About WiD

Founder&Owner jogja geowisata (www.ygeotour.com) dan geodwipa teknika (www.geodwipa.com). Alumni Teknik Geologi UGM. Hobby: International Travel, Photography, Gourmet Cooking, Entrepreneurship, Blogging.
This entry was posted in Cerita-Cerita and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*