Saya berkesempatan berkunjung ke Yemen akhir tahun 2010 – Maret 2011 karena ada tugas kantor yang mengharuskan saya untuk ke sana. Waktu itu based saya masih di Doha, Qatar. Pada saat itu situasi di Yemen belum sepanas seperti belakangan ini. Seminggu setelah saya meninggalkan Ibukota Yemen, kerusuhan besar terjadi di sana, dan sampai sekarang ini belum selesai.
Pada waktu itu saya sempat jalan-jalan ke kota tua di downtown Sanaa, ibukota Yemen. Kota yang dikelilingi tembok, dibangun 1000an tahun sebelumnya. Jamak lazimnya beberapa kota di negara-negara teluk, adalah kota-kota baru, yang dibangun belakangan dengan mengedepankan konsep pembangunan modern. Sanaa sebagai Ibu kota Yemen merupakan kota tua yang sudah berumur ribuan tahun. Melihat kondisi Sanaa saya jadi teringat kondisi Duri, Riau dengan angkot-angkotnya:).
Yemen, menurut saya adalah satu-satunya negara di jazirah Arab yang tidak semaju dan semakmur negara-negara tetangganya. GCC (Gulf Cooperation Council) sebagai salah satu wadah negara-negara di Gulf/teluk tidak memasukkan Yemen sebagai anggotanya. Melihat sekilas Sanaa, dengan bandara internasional, kondisi downtown-nya tidak akan menyangka kalau kota tersebut sebagai kota ibukota sebuah negara. Persis seperti level kota kecamatan di Indonesia
Angkot-angkot dan taksi menggunakan mobil-mobil tua, pada ngetem, asongan di perempatan jalan, orang menjual jasa mencuci mobil di pinggir jalan, pengemis yg menggendong anak yang selalu mengikuti kita meminta belas kasihan, persis sekilas seperti kondisi di Jakarta, bedanya Jakarta sudah megapolitan dikit..ada sisi gemerlap menghiasi kehidupan Jakarta, baik siang ataupun malam. Bandara Internasional Sanaa, seperti bukan seperti bandara internasional, tapi persis seperti bandara di Prabumulih 4th lalu. Maskapi penerbangan Yemen adalah Yemenia air, begitu kita sudah memegang tiket dengan tempat duduk tertera pada tiket, setelah masuk kabin disela-sela kesibukan kita mencari tempat duduk, sang Pilot dari kokpit dengan nyaring akan mengatakan,”free sitting”, buyar semua usaha nyari tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. Dan tidak disangka tidak dinyana, banyak sekali pramugarinya dari Indonesia 🙂
Suatu hari saya berkesempatan sholat Jumat di mesjid Agung, Sanaa Yemen. Memasuki komplek masjid akan terasa begitu kontrasnya kondisi masjid dengan lingkungan sekitarnya. Masjid didirikan dengan bangunan yang megah dengan playground yang luas, sedangkan kalau diliat dari kondisi rumah kebanyakan penduduk Yemen lebih banyak yang sederhana, walaupun ada beberapa rumah yang mewah dan luasnya minta ampun di sekitarnya
Mesjid dilengkapi dengan 4 menara, bergandengan dengan komplek universitas yang khusus digunakan untuk mendalami ilmu keagamaan. Konon kabarnya banyak juga mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Yemen. Saya suka memperhatikan kebiasaan dan budaya lokal. Kalau di kita biasanya pergi sholat Jumat tidak ada keharusan harus menggunakan pakaian tertentu. Di kampung kebiasaan saya menggunakan sarung, baju koko, dan peci. Atau kalau mesjidnya deket perkantoran, jamaahnya kebanyakan orang kantoran. Karena disini jumat hari libur, kebanyakan mereka membawa serta keluarganya untuk bermain di pelataran mesjid. Bapak-bapaknya sholat, Ibu-Ibu dan anak-anak kecilnya nungguin di pelataran mesjid sambil bermain menghabiskan waktu.
Cara berpakaian mereka unik. Para jamaah sholat jumat ini kalau saya amati bisa dikelompokkan menjadi 3 macam kelompok besar bagaimana cara mereka berpakaian. Yang pertama memakai jubah putih seperti kebanyakan orang arab, tetapi tanpa ikat kepala warna item yang dilingkarkan di kepala, melainkan kain yang langsung diikatkan di kepala, seperti orang Oman kebanyakan atau sebagian orang di UAE. Corak kain ikat kepala ini pun berbeda dengan corak kain kebanyakan orang arab yang rata-rata berwarna putih atau merah kotak-kotak putih. Kain ikat kepala mereka spt taplak meja, ada corak gambar di tengahnya.
Kemudian mereka juga memakai jas mungkin karena suhu disini yang memang dingin, jadi sudah menjadi kebiasaan buat mereka utk memakai jas. Kemudian tanpa ketinggalan mereka selalu menyelipkan pedang khas Yemen di perut. Di dalam mesjid, mau dengerin khotbah, duduk, pas sholat pedang tetep terselip di perut. Pakaian yang kedua adalah berpakaian seperti diatas, jubah putih namun kain taplak tidak dipakai sebagai ikat kepala melainkan dikalungkan di leher kayak pramuka. Jadi klo diliat dari belakang akan keliatan bentuk kain segitiga di punggung. Tidak ketinggalan juga tentu saja ikat pinggang dengan pedang khas Yemen yang terselip di perut.
Cara berpakaian yang ketiga adalah kombinasi antara kain mirip sarung yang dipakai sebatas lutut, hampir mirip dengan orang flores ato NTT klo memakai kain sarung, dengan pakaianbiasa. Tidak lupa tentu saja kain ikat kepala dan pedang. 100 meter memasuki pelataran mesjid, sendal dan sepatu harus sudah dilepas. Temen saya bilang sebaiknya sendal ditaruh secara terpisah,sendal kiri ditaruh 5-10 meter dari sendal kanan..kata dia demi keamanan :). Memasuki masjid, kejadian lebih unik lagi ada 4 tentara sudah menunggui di depan pintu mesjid. Semua jamaah tanpa kecuali harus melewati security check. Tentara akan menggeledah kita kira-kira membawa sesuatu yang membahayakan atau tidak. Anehnya semua orang yang membawa pedang terselip di perut tidak dilarang dan dibiarkan masuk bebas ke dalam mesjid. Selesai sholat banyak yang potret-potret di dalam masjid, krn interiornya memang bagus, dan di dalamnya luas.
Photo di samping ini saya ambil ketika sedang berjalan-jalan di kota tua. Ada jejak kehidupan umat minoritas (simbol di pintu) hidup berdampingan secara damai dengan umat mayoritas. Yang mayoritas melindungi dengan saling menghormati. Semoga keadaan Yemen semakin hari semakin membaik dan rakyatnya bisa kembali beraktivitas dengan tenang seperti sedia kala. Kesan saya terhadap rakyat Yemen adalah mereka sangat ramah terhadap pendatang, seperti yang saya rasakan waktu itu. Doa saya untuk kedamaian rakyat Yemen.
1 Response to Sepenggal Cerita tentang Kisah Perjalanan di Sanaa, Yemen