Sekelumit Cerita Lain tentang Jogja

Yogyakarta, Yogya, Yogja, Djogdja, Djodjakarta dan berbagai vareasi nama turunan dari nama-nama itu atau belakangan lebih dikenal dengan sebutan Jogja. Nama terakhir dipopulerkan oleh Hermawan Kertajaya dengan jargon marketingnya Jogja Never Ending Asia. Siapakah tidak mengenal Jogja? sepertinya lebih banyak orang yang mengenal Jogja daripada orang yang sama sekali tidak mengenal nama Jogja.

Yogyakarta sebagai sebuah propinsi, terdiri dari 1 kotamadya dan 4 kabupaten yaitu Kodya Jogja, Kab Bantul, Kab Kulonprogo, Kab Sleman, dan Kab Gunung Kidul. Ada sesuatu yang lucu disini. Ada sebagian pihak mempunyai anggapan orang-orang terutama yang bertempat tinggal di Kab Bantul, Kulonprogo, dan Gunung Kidul ketika mereka mengaku sebagai orang Jogja, selalu dikejar dengan pertanyaan Jogja-nya dimana. Ketika mereka menjawab Bantul, Kulonprogo, atau Gunung Kidul kemudian jawaban balik yang diterima adalah mereka bukan orang Jogja melainkan orang Bantul, Kulonprogo atau Gunung Kidul :). Tetapi ketika ada orang yang bilang bertempat tinggal di Jalan Kaliurang, Pogung, Condong Catur, bandara Adisucipto orang langsung mengiyakan mereka adalah orang Jogja, padahal sebenarnya kalau mau disamakan dengan kasus yang pertama, orang-orang yang bertempat tinggal di daerah sekitar wilayah itu adalah orang Sleman hehe

Orang Jogja adalah orang yang bermukim di semua wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Orang Jogja adalah kesatuan orang-orang yang bertempat dan bermukim dibawah ikatan batin dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diakui atau tidak orang yang benar-benar lahir dan besar di Jogja masih punya ikatan batin yang kental dengan Keraton. Mereka pada umumnya masih sangat menghormati dan menjunjung tinggi Sultan sebagai pemimpin mereka. Lihatlah contoh yang sederhana, ketika di daerah lain orang-orang berunjuk rasa menentang kepemimpinan seseorang, justru di Jogja rakyatnya berunjuk rasa untuk mendukung Sultan sebagai pemimpin mereka. Rakyat Jogja tidak rela ketika ada tangan-tangan kekuasaan dari luar mencoba mengganggu-gugat kepemimpinan Sultan.

Jogja sekarang sudah berkembang sedemikian pesatnya. Sekarang ini banyak titik-titik kemacetan yang sangat mudah dijumpai di Jogja. Sekitar tahun 80-90an Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Saya masih ingat betul, di waktu pagi hari ratusan bahkan ribuan pengendara sepeda ontel memasuki kota Jogja. Kota Jogja (Kodya Jogja) sebagai pusat ekonomi menyedot minat penduduk yang tinggal di sekitar atau di luar kota Jogja untuk mengadu nasib dan mencari nafkah. Demikian pula sebaliknya, ketika sore hari, ratusan atau ribuan sepeda ini keluar meninggalkan kota Jogja. Seandainya pemandangan ini di lihat dari atas, pasti akan terlihat seperti ular raksasa yang panjang sekali. Sekarang ini barisan mengular sepeda ontel ini berganti dengan sepeda motor, yang kadang kala ugal-ugalan cara mengendarainya. Kenapa bisa begini? salah siapa? saya tidak tahu…

Dulu kendaraan umum  yang melayani transportasi wilayah Jogja dan sekitarnya adalah sejenis colt-300. Seiring berjalannya waktu, beberapa jenis kendaraan roda empat sebagai moda transportasi juga didatangkan untuk melayani masyarakat kota Jogja. Karena saking terbiasanya dengan layanan transportasi colt-300, masyarakat kota Jogja dan sekitarnya setiap kali menunggu kendaraan umum baik itu colt, bus, dan yang lainnya, selalu menyebut menunggu “kol” :). Tetapi tentu saja  itu terjadi beberapa saat yang lalu. Sekarang kata-kata kol sudah jarang atau malah tidak terdengar sama sekali, karena transportasi umum kota Jogja rata-rata sudah dilayani oleh bus.

Orang-orang yang tinggalnya dekat dengan pantai selatan dulu menyebut kota Jogja dengan sebutan “lor” karena letaknya di sebelah Utara – relatif terhadap letak pantai Parang Tritis. Atau ada juga yang menyebut kota Jogja dengan sebutan “negoro” atau negara karena mengacu pada posisi Keraton sebagai pusat pemerintahan. Jadi ketika ada yang bertanya kepada seseorang mau pergi kemana, dan dijawab oleh orang tersebut mau pergi “ngalor”  (ke utara) atau pergi ke “negoro” artinya mereka mau pergi ke kota Jogja.

Ada sesuatu yang khas di Jogja. Orang-orang pada umumnya menggunakan arah mata angin untuk menunjukkan arah lokasi atau navigasi. Sedangkan di kota-kota lain pada umumnya orang-orang hanya menggunakan 2 petunjuk saja yaitu kanan atau kiri. Cobalah anda bertanya kepada orang Jogja mengenai suatu letak lokasi atau tempat tertentu. Bisa dipastikan anda akan mendapatkan petunjuk yang mengandung salah satu atau lebih arah mata angin, misalnya sebelah Utara a, sebelah Selatan b, sebelah Barat c atau sebelah Timur d. Orang yang belum terbiasa dengan cara atau petunjuk arah yang digunakan oleh orang-orang Jogja, pasti akan bingung, titik pangkal mata anginnya diikat dimana? Ketika orang bilang sebelah Utara, referensi titik awalnya dari mana? Orang Jogja menganggap Tugu sebagai titik nol. Ketika ditarik garis lurus dari Pantai Selatan (Pantai Parangtritis), Keraton, Tugu, dan Gunung Merapi maka akan tergambar garis lurus maya arah Selatan – Utara. Artinya titik referensinya adalah Tugu. Keraton berada di sebelah Selatan Tugu. Gunung Merapi berada di sebelah Utara Tugu. Nahh mudah bukan, jikalau anda jalan-jalan di Jogja dan mendapatkan petunjuk arah dengan menggunakan mata angin, sekarang anda sudah tahu cara “membaca”-nya.

Selain sebagai pusat budaya, kota pelajar, Jogja juga dikenal sebagai pusat kuliner. Berbagai macam vareasi kuliner dengan sangat mudah dijumpai di Jogja. Jogja dikenal sebagai pusat kuliner belumlah begitu lama. Mungkin seiring dengan berkembangnya Jogja sebagai salah satu kota tujuan wisata maka berkembang pesat pula beraneka ragam kuliner. Dulu sebelum wisawata kuliner di Jogja berkembang pesat seperti sekarang ini, orang hanya mengenal beberapa macam vareasi kuliner atau makanan khas dari Jogja. Misalnya Kodya Jogja dikenal dengan bakpia dan gudeg-nya, Bantul dengan geplak, Sleman dengan salak pondohnya, Kulon Progo dengan growol, dan Gunung Kidul dengan tiwul dan gatotnya. Sekarang ini hampir semua wilayah di propinsi Jogjakarta  semua makanan khas dengan berbagai macam vareasinya tersedia. Gudeg nangka akan mudah di temukan di daerah Wijilan, Kodya Jogja namun kalau anda ingin mencoba gudeg manggar (calon buah kelapa yang masih kecil-kecil sekali) anda tidak akan bisa menemukan di Wijilan. Gudeg manggar adalah makanan khas yang hanya anda jumpai di daerah Srandakan, Kab Bantul. Berbagai vareasi masakan jamur, bakmi, ikan, sate, angkringan dengan sego (nasi) kucingnya dengan kekhasannya masing-masing, dan lain-lainnya sekarang dengan sangat mudah ditemukan di semua wilayah di Jogja. Disebut sego kucing bukan berarti nasi untuk makanan kucing, tetapi karena ukurannya yang sangat sedikit seolah-olah sama porsinya untuk diberikan kepada seekor kucing, maka kemudian namanya dikenal sebagai nasi/sego kucing. Sekarang ada satu lagi oleh-oleh khas dari Jogja yang sudah mulai dikenal banyak orang, yaitu berupa produk coklat. Pabrik dan lokasi tokonya ada di Kotagede.

Dulu sewaktu kecil saya tinggal di daerah pinggiran Jogjakarta. Banyak pohon rindang di halaman rumah saya. Saya masih ingat setiap pagi sebelum mandi dan berangkat sekolah, Ibu selalu membangunkan saya dan kakak untuk menyapu halaman rumah yang dipenuhi oleh daun-daun kering yang jatuh dari pohon pada malam harinya. Saya dan kakak membagi jatah luas halaman yang menjadi tanggung jawab masing-masing untuk disapu. Biasanya masyarakat pedesaan di Jogja menggali lubang di pojok-pojok halaman rumahnya masing-masing untuk tempat mengumpulkan sampah-sampah dari daun-daun kering ini. Lubang-lubang ini biasanya disebut “jogangan”. Jadi kalau saya menyapu halaman, sampah dan daun-daun kering ini saya arahkan ke jogangan tersebut. Setelah penuh, biasanya sampah daun kering ini dibakar dan sekaligus bisa dijadikan sebagai tempat perapian. Sekitar tahun 80-90an lalu di waktu pagi hari udara Jogja masih lumayan dingin, tidak seperti sekarang. Pada umumnya di pagi hari bisa dijumpai pemandangan dimana masing-masing orang sedang berapi unggun menghangatkan badan dari dinginnya udara pagi dengan membakar sampah daun kering di pojok halamannya masing-masing. Sambil berapi-api biasanya saya dan kakak memasukkan beberapa potong ketela pohon atau butir-butir buah mlinjo  untuk dibakar bersamaan dengan daun-daun kering tadi. Buah mlinjo ini (bahan mentah emping) kita dapatkan dengan memungut buah-buah mlinjo masak (biasanya kulitnya berwarna kuning atau kemerahan) yang jatuh dari pohon pada malam harinya karena terkena angin atau dimakan kelelawar. Setelah api padam, dan daun sudah terbakar habis, kita angkat ketela dan mlinjo bakar, dan dinikmati bersama-sama sebagai sarapan pagi sebelum mandi dan berangkat sekolah.

Tidak akan habis-habisnya bercerita tentang Jogja dan kenangan di dalamnya. Kalau anda ingin main ke Jogja, jangan segan-segan menghubungi saya, dengan senang hati nanti saya antarkan anda ke lokasi-lokasi menarik di Jogja. Siapa yang belum pernah berkunjung ke Jogja :)?

About WiD

Founder&Owner jogja geowisata (www.ygeotour.com) dan geodwipa teknika (www.geodwipa.com). Alumni Teknik Geologi UGM. Hobby: International Travel, Photography, Gourmet Cooking, Entrepreneurship, Blogging.
This entry was posted in Cerita-Cerita and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Sekelumit Cerita Lain tentang Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*