Saya bukan ahli motivator. Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan motivasi kepada siapapun setelah mungkin nanti ada orang yang membaca apa yang saya tuliskan ini. Saya sekedar menuliskan kembali apa yang saya ingat tentang sebuah peristiwa yang saya alamai yang terjadi kemaren petang dan dari peristiwa tersebut saya bisa mengambil hikmah dan pelajaran hidup.
Karena sesuatu hal saya harus lebih lama tinggal di kantor dan pulang terlambat. Kebetulan saya belum mempunyai mobil sendiri di negara ini. Jangankan mobil, driving license saja belum punya. Bagaimana bisa punya driving license kalau residence permit saja belum jadi hehe. Saya masih sangat tergantung dengan antar jemput mobil kantor.
Pada petang itu setelah urusan kantor selesai, saya ingin pulang ke rumah. Tapi dengan siapa? saya lihat suasana kantor sudah sepi, ada beberapa orang tetapi saya tidak kenal. Saya mencoba menilpon salah seorang sopir kantor, tetapi dia juga sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya dan katanya tidak kembali lagi ke kantor.
Singkat cerita ada salah satu sopir kantor, berkebangsaan India, yang bersedia menjemput saya dari kantor dan mengantarkan saya pulang ke apartemen. Waktu itu petang hari, jam 17.30. Di musim dingin jam segitu sudah kelihatan malam. Saya lihat muka capek dan kelelahan terpancar dari wajahnya. Dia bilang baru saja mengantar seseorang ke bandara dan langsung balik menjemput saya. Ada perasaan bersalah dalam diri saya dan saya bilang minta maaf sudah merepotkan dia.
Sebagai ungkapan rasa bersalah saya kepada dia kemudian saya ajak pak sopir ini untuk mampir makan malam. Saya tanyakan ke dia apakah keluarganya diajak merantau juga di negara ini. Dia bilang iya. Kantor saya eselbe ini letaknya bukan di jantung kota seperti halnya di Jl Sudirman atau Thamrin, yang banyak sekali resto-resto, namun letaknya di kawasan industri area, jauh dari restaurant yang bener-bener restaurant. Tempat makan terdekat hanya sebuah restaurant cepat saji. Saya ajak pak sopir mampir sebentar kesana. Awalnya dia tidak mau ikut masuk ke dalam, namun saya tetap mengajak dia untuk ikut bergabung dengan saya masuk ke dalam restaurant cepat saji tersebut.
Saya memesan satu set menu dinner isinya 3 potong ayam, kentang, 1 coke dan 1 set menu keluarga yang isinya 1 keranjang yang di dalamnya berisi 21 potong ayam, 3 kotak besar kentang goreng, 10 roti, dan 1 botol coke. Semua untuk dibawa pulang. Setelah selesai membayar semua pesanan, kemudian saya bilang kepada pak sopir,”ini menu famili untuk kamu dan keluargamu di rumah, sedangkan yang menu dinner untuk saya”. Di luar dugaan saya, ekspresi dia benar-benar kaget dengan apa yang saya lakukan. Mungkin dalam bayangan pak sopir ini, menu famili akan saya bawa pulang dan menu dinner akan saya berikan ke dia.
Apa yang saya lakukan menurut saya sebenarnya tidak ada apa-apanya dengan apa yang pak sopir ini lakukan kepada saya. Seharusnya jam segitu dia sudah pulang dan bertemuĀ dengan keluarga dia di rumah. Selama dalam perjalanan pulang dan sesampainya saya di apartemen saya terus merenungkan, kenapa hal yang saya lakukan kepada pak sopir tadi yang menurut saya sangat sepele namun sangat diapresiasi oleh dia?
Kemudian saya pada suatu kesimpulan, bahwa kita harus saling menghormati dengan orang lain, selalu memperlakukan dan menghargai orang lain dengan baik tanpa harus memperhatikan latar belakang siapa orang itu, posisinya sebagai apa, orangnya dariĀ mana. Betul, kalimat diatas sudah sangat sering kita baca, kita dengar, atau kita lihat, bahkan sudah diajarkan sejak kita di Sekolah Dasar. Namun dengan kejadian yang saya alami petang itu, saya semakin yakin dengan kebenaran kalimat-kalimat itu. Sekecil apapun yang kita lakukan dan mungkin menurut kita itu sangat sepele namun asal dilakukan dengan perasaan iklas dan dilandasi sikap saling menghargai, sangat bisa jadi orang lain itu akan sangat mengapresiasi apa yang kita lakukan terhadap mereka.