Saya yakin di tiap-tiap kota mempunyai pusat atau sentra penjualan menu buka puasa atau takjil, misalnya di Jakarta menu takjil banyak dijual di daerah Bendungan Hilir (Benhil). Nah kebetulan saya sedang mudik pulang kampung ke Jogja. Ada beberapa tempat di Jogja yang menjadi sentra penjualan menu buka puasa, seperti di seputaran UGM, Kauman, Jogokaryan dan masih banyak lagi.
Dua-tiga hari menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan 1433 H ini, saya sempat berburu menu buka puasa atau takjil di dua lokasi di daerah Jogja yaitu di pasar sore Ramadhan Kauman, dan di kampung Ramadhan, Jogokaryan. Kedua lokasi ini secara khusus dirubah menjadi pasar tiban dan hanya ada selama bulan puasa. Dan saya sempat menyaksikan beberapa kali, kedua pasar tiban ini pernah diliput dan ditayangkan oleh beberapa stasiun TV swasta.
Kauman adalah sebuah kampung di Jogja, kurang lebih berjarak 1 km ke arah barat dari titik nol (lokasi monumen serangan umum 1 maret) atau beberapa ratus meter sebelah utara berbatasan dengan alun-alun utara Keraton Jogja. Kauman adalah sebuah kampung bernuansa sangat kental dengan salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air karena di kampung ini salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di Indonesia, Kyai Haji Ahmad Dahlan dilahirkan. Di setiap bulan puasa, sebuah gang kecil berukuran lebar kurang lebih 3 meter dan panjang kurang lebih 200 m
di kampung Kauman ini dirubah menjadi pasar sore tempat dijajakannya berbagai macam menu buka puasa atau takjil, dari berbagai macam sayuran, minuman seperti es kelapa muda dengan campuran air gula merah, es kopyor sirup, es cendol, dan makanan ringan khas yang
hanya ada di bulan puasa seperti kricak. Kricak adalah makanan kecil terbuat dari adonan ketan, ditaburi parutan kelapa dan diberi sepotongan irisan pisang. Pasar sore Kauman ini biasanya mulai buka kurang lebih sekitar jam 15 dan akan berakhir menjelang maghrib atau sesaat waktu berbuka puasa tiba. Harga yang ditawarkan tidaklah mahal. Dengan uang 50 rb, anda bisa mendapatkan
berbagai macam menu takjil di pasar sore Ramadhan Kauman ini. Pedagang menjajakan menu takjilnya di meja-meja kecil yang di tata di sepanjang gang ini. Ada juga beberapa di antaranya menggelar alas plastik di jalanan gang dan menjajakan dagangannya di atasnya. Ada salah satu penjual yang menarik perhatian saya, seorang Ibu menggelar takjil berupa bakmi dan cap cay dengan membentuknya seolah menjadi sebuah gunung bakmi. Rata-rata dagangan dijual di ruang terbuka, tidak ditempatkan dalam ruang tertutup misalnya diberi sekat plastik atau kain. Bagaimana dengan higienitas dari barang dagangannya, apakah tidak takut terkena debu
atau asap kendaraan mengingat karena pasar sore Kauman ini lokasinya tidak jauh dari jalan raya KH Ahmad Dahlan yang banyak dilalui kendaraan baik motor, mobil, maupun bus. Yang pasti antara penjual dan pembeli sama-sama senang. Termasuk salah satunya saya sendiri. Salah satu menu takjil yang saya beli adalah sebungkus bakmi dicampur dengan cap cay goreng (terbuat dari adonan tepung terigu dan telur kemudian digoreng, diiris-iris bentuk dadu dan ditaburi irisan sayuran kubis dan wortel). Ketika waktu berbuka dan sudah sampai rumah, bakmi dan cap cay goreng ini yang saya santap pertama kali dan ternyata sampai sekarang ini saya tidak merasakan sakit perut, yang ada rasa puas dan kenyang karena ternyata bakmi gorengnya enak banget hehe.
Hari berikutnya, pasar sore Ramadhan yang kedua yang saya datangi untuk mencari menu takjil adalah terletak di kampung Jogokaryan.
Jogokaryan letaknya kurang lebih 4 Km ke arah selatan dari titik nol, berdekatan dengan pondok pesantren Krapyak. Berbeda dengan Kauman, event pasar tiban di kampung Jogokaryan ini diberi nama Kampung Ramadhan, mengambil tempat sepanjang jalan sampai masjid Jogokaryan kurang lebih sepanjang 300 m. Iya betul, karena lokasinya berada di
kanan kiri jalan utama, tentu saja mengakibatkan lalu lintas padat merayap ketika melintasi jalan Jogokaryan karena dipenuhi penjual, pembeli maupun pengguna jalan itu sendiri. Saya sendiri tidak mau report terkena macet, dengan memarkir mobil saya di halaman parkir sebuah supermarket yang letaknya tidak jauh dari lokasi kampung Ramadhan ini. Walaupun menyebabkan jalanan menjadi tersendat, tetapi saya tidak mendengar satu kalipun bunyi klakson diobral, karena orang-orang sudah sama-sama maklum ketika
melintasi jalan Jogokaryan ini akan melintasi kampung Ramadhan. Menu takjil yang dijual hampir sama dengan yang ada di Kauman, berbagai macam sayuran, minuman, dan makanan ringan lainnya. Yang sedikit membedakan adalah adanya penjual-penjual makanan yang memasak atau menggoreng makanannya di tempat, seperti penjual pizza, sosis, bakso, dan empek-empek. Ada juga penjual kopiah menggelar dagangannya di pinggir jalan. Saya sempat juga membeli
sebuah kopiah seharga 10rb yang nanti akan saya pakai ketika sholat Idul Fitri hari minggu besok. Hal ini wajar, karena lokasi kampung Ramadhan di Jogokaryan lebih luas di sepanjang kanan dan kiri jalan raya, dibandingkan di Kauman yang terletak hanya di sepanjang gang kampung. Sebenarnya kalau dipikir-pikir dan diperhatikan, apa yang disajikan di sini tidak ada bedanya dengan apa yang ada di food court, pasar, atau sentra penjual makanan lainnya. Namun anehnya setiap sore tempat-tempat semacam pasar tiban yang ada di Kauman dan Jogokaryan ini selalu padat didatangi pengunjung dan rela bermacet-macetan. Mungkin yang menyebabkan mereka mau datang adalah karena rasa penasaran ingin melihat suasana pasar sore Ramadhan itu sendiri.
Saya sendiri di Jogokaryan ini menyempatkan untuk membeli beberapa menu takjil, seperti pepes ikan, lumpia goreng, beberapa macam menu sayuran, dan wader goreng. Wader adalah sejenis ikan air tawar, berukuran paling besar setengah jari kelingking orang dewasa, biasanya hidup di sungai. Ketika digoreng dan dibumbui rasanya renyah gurih..hhmm enak, cocok disantap dengan nasi putih yang pulen dan panas.
Wader goreng begitulah orang Jogja menyebutnya. Goreng ikan ini sangat umum dan mudah sekali dijumpai di toko oleh-oleh yang ada di Jogja. Biasanya kalau belinya di toko oleh-oleh, wader goreng ini akan dibungkus di kemasan yang lebih rapi, menarik dan ada labelnya. Nah, karena saya membeli wader gorengnya di event pasar sore Ramadhan, maka apa yang saya dapatkan adalah wader goreng yang dibungkus di plastik biasa tanpa label. Tapi rasanya sama saja kok, tepat enak dan gurih. Saya juga melihat ada satu pedagang menjajakan ketupat
janur. Tentu saja belum ada isinya, alias masih kosong. Ketupat-ketupat kosong ini ditempatkan di keranjang yang diletakkan di kursi belakang motornya. Mungkin menjelang hari raya Idul Fitri yang sebentar lagi akan tiba, si penjual memanfaatkan situasi untuk mencoba keberuntungan dengan menjual ketupat janur ini.
Semoga tahun depan saya masih diberi umur panjang sehingga masih bisa menjumpai lagi suasana bulan suci Ramadhan 1434 H, menikmati pasar sore Ramadhan di Kauman, Jogokaryan, dan mungkin di seputaran bunderan UGM..aminn.
Pingback: Kampung Ramadhan Jogokaryan aset wisata religi Yogyakarta | makanenak.info