Cerita yang ditulis di bawah ini adalah suasana transit di Doha International Airport yang lama sebelum mereka pindah di Hamad International Airport yang baru. Pemerintah Qatar mulai mengoperasikan Hamad International Aiport tanggal 27 Mei 2014. Dengan demikian mereka sudah tidak lagi menggunakan airport yang lama seperti yang diceritakan di bawah ini. Apabila anda dalam waktu dekat ini akan melakukan penerbangan dengan Qatar Airways dan transit di Doha, sebaiknya membaca tulisan Suasana Doha International Airport yang baru bisa dibaca disini Suasana Transit di Hamad International Airport, Doha.
Ada tiga maskapai penerbangan internasional yang biasanya saya gunakan ketika saya bepergian keluar negeri, terutama perjalanan dari Indonesia ke arah Middle East dan Eropa. Maskapai tersebut adalah Qatar Airways, Emirates, dan Etihad. Masing-masing maskapai ini selalu menjadi langganan menduduki peringkat lima besar menurut lembaga pemeringkat SkyTrak. Saya sebenarnya sangat ingin mencoba menggunakan Garuda, karena sekarang Garuda juga sudah membuka jalur penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, transit di Dubai, dan Garuda pun dua tahun terakhir juga langganan mendapatkan penghargaan dari lembaga pemeringkat SkyTrak. Namun sayangnya kadang keinginan saya ini terbentur dengan tidak kesesuain hari dan jam jadwal keberangkatan dan kepulangan yang saya maui dengan jadwal yang ada di Garuda. Semoga Garuda Indonesia ke depannya akan semakin banyak menambah dan membuka jalur penerbangan ke banyak kota di dunia, sehingga pilihan saya akan jatuh ke Garuda daripada ketiga maskapai yang sudah saya sebutkan di atas.
Pada beberapa kesempatan mendatang saya akan mencoba menuliskan suasana transit di Hub Qatar Airways (Doha International Airport), Hub Emirates (Terminal 3, Dubai International Airport: ceritanya bisa dibaca disini Suasana Transit di Dubai International Airport), dan di Hub Etihad (Terminal 3, Abudhabi International Airport: ceritanya bisa dibaca disini Suasana Transit di Abu Dhabi International Airport). Untuk kesempatan pertama, saya akan membagi cerita bagaimana suasana transit di Doha International Airport.
Ketika kita menggunakan maskapai Qatar Airways, tas bawaan yang akan kita bawa masuk ke kabin akan ditandai dengan tag yang warnanya beberapa macam, tergantung tujuan kita masing-masing. Apabila tujuan akhir perjalanan kita di Doha, maka tas kita akan diberikan tag berwarna biru. Sedangkan tag warna kuning akan diberikan pada tas kita apabila kita hanya transit di Doha. Tag warna ungu apabila kita menggunakan kelas bisnis dan transit di premium terminal di Doha. Ketika pesawat Qatar Airways yang membawa kita sudah mendarat di Doha, pesawat akan mendarat jauh dari terminal kedatangan, dan untuk saat ini di Doha International Airport belum ada layanan garbarata, atau tangga yang menghubungkan pintu pesawat keluar ke pintu masuk terminal kedatangan. Penumpang akan turun dan dibawa ke terminal menggunakan bus.
Bus akan berhenti di beberapa terminal kedatangan. Jangan sampai salah turun. Harap selalu diperhatikan warna tag yang dikaitkan di tas bawaan kita. Apabila tag tersebut berwarna kuning, terminal tempat kita turun adalah di terminal transfer. Perhatikan pintu terminal ada tandanya berupa neon box berwarna kuning bertuliskan “Transfer Departure” jangan sampai kita turun di terminal yang di pintunya ada tanda neon box berwarna biru bertuliskan “Doha Arrival”. Untuk penumpang transit kelas bisnis mereka akan turun di terminal transit kelas bisnis tersendiri. Apa yang akan saya tuliskan selanjutnya di blog ini adalah ketika kita transit di Doha dengan menggunakan tiket kelas ekonomi.
Begitu kita turun dari bus dan memasuki pintu terminal transfer, hal pertama yang harus kita lakukan adalah ikut mengantri untuk melakukan custom clearance. Tas bawaan kita akan diperiksa petugas custom di Doha dengan cara memasukkan tas tersebut di x-ray scanner sebelum kita masuk ke terminal transfer. Sebaiknya sebelum kita ikut antri, segala sesuatunya dipersiapkan terlebih dahulu. Passport dan tiket tidak usah dikeluarkan, lebih baik disimpan di dalam tas, karena petugas tidak akan menanyakan tiket dan passport. Segala bentuk perhiasan, jam tangan, ikat pinggang dan lain-lain yang mengandung unsur logam sebaiknya dimasukkan di dalam tas. Karena nanti pada saat kita melewati pintu detektor dan berbunyi, petugas akan menyuruh melepaskan benda-benda tadi dan kita diminta untuk mengulang kembali melewati pintu detektor logam serta memasukkan barang-barang tersebut ke x-ray scanner.
Setelah proses custom clearance selesai, kita bisa segera memasuki lantai pertama terminal
transfer. Sebenarnya terminal transfer di Doha international airport (DIA) tidaklah begitu besar, masih jauh lebih besar di terminal 3, Dubai international airport. Di lantai pertama terminal transfer di DIA, ada beberapa gate. seperti nampak di dalam photo di samping kanan, Gate 1-6 terletak di lantai satu. Selain itu di lantai satu juga ada Qatar Duty Free (QDF). Sedangkan Gate 7-41 terletak di lantai 2. QDF juga relatif tidak besar. Lokasi utamanya terletak di lantai satu. QDF yang terletak di lantai satu mempunyai beberapa konter snack seperti coklat dan permen, cinderamata, minuman beralkohol, rokok serta cerutu yang
menyambung ke konter parfum, tas, aksesoris dan perhiasan. Biasanya disana akan dipajang dua mobil mewah sebagai lucky draw bagi pengunjung yang beruntung. Pada saat photo di sebelah kiri ini saya ambil, dua mobil mewah yang terpanjang disana adalah Bentley dan Mercedes. Saya sendiri belum pernah mencoba mengikuti undian lucky draw ini, karena kalau tidak salah pembelian minimal 1000 QAR (Qatari Riyal) baru mendapatkan satu kupon undian. Dan saya belum pernah berbelanja di QDF menghabiskan sebanyak itu hehe. Tentang perbandingan harganya
apakah lebih murah atau lebih mahal dibandingkan dengan Duty Free di bandara lain terus terang saya tidak mempunyai datanya, karena sama sekali belum pernah mencoba untuk membandingkan. Sedangkan QDF yang terletak di lantai 2 terdiri dari konter parfum (biasanya berupa satu stand display dari satu merk parfum saja), konter snack, konter elektronik, dan konter cindera mata. Konternya tentu saja hanya berupa konter kecil, seluas ruko.
Di samping konter-konter tadi, ada beberapa – saya menyebutnya portable duty free – yang didorong oleh petugas QDF, sama seperti apa yang kita lihat ketika awak kabin menawarkan duty free di sela-sela gang kursi penumpang di dalam pesawat. Barang duty free yang dijual di kereta-kereta dorong ini pada umumnya rokok dan parfum.
Selain konter-konter duty free di atas, kita juga bisa menemukan beberapa konter yang menjual makanan dan minuman. Di lantai satu ada satu konter cafe menjual kopi, teh, dan kue-kue. Konter ini letaknya di belakang duty free yang ada di lantai satu.
Oiya mata uang resmi yang digunakan untuk traksaksi jual beli di QDF adalah Qatari Riyal. Selain itu disini juga menerima mata uang utama dunia seperti Euro, USD, dan beberapa mata uang negara GCC (negara teluk). Kalau kita misalnya mempunyai mata uang USD yang lecek, terlipat sedikit, terlipat banyak, jangan khawatir uang masih tetap bisa digunakan untuk transaksi dan nilainya tidak akan berubah. Selain di lantai satu, cafe semacam ini bisa ditemukan juga di lantai dua. Bagi yang ingin menikmati hidangan yang agak berat seperti nasi dan menu fast food,
konternya bisa ditemukan di lantai dua. Disana bisa ditemukan beberapa macam pilihan sesuai selera kita. Mungkin menunya tidak selengkap seperti yang anda harapkan atau bahkan kalau kita bandingkan dengan beberapa pilihan yang ada di bandara Soekarno Hatta. Di samping konter food court ini ada ruangan/lounge khusus pemegang Priviledge Club Silver. Sayang saya tidak sempat mengambil photo lounge-nya. Tetapi secara garis besar adalah sebuah ruangan, lumayan luas, berisi deretan bangku dan kursi tempat penumpang pemegang kartu silver beristirahat. Di Lounge silver ini terdapat ruangan komputer yang berisi beberapa buah komputer untuk penumpang berselancar di dunia maya. Namun di ruang komputer ini tidak ada kursinya, layar monitor komputer di letakkan di rak-rak dan orang harus sambil berdiri untuk mengaksesnya. Selain ruang komputer ada juga ruangan merokok, ruang sholat, toilet dan tentu saja ruang utama adalah tempat beristirahat (duduk saja) sambil menikmati beragam minuman hangat, coke, dan snack. Kalau saya bandingkan dengan lounge di Soekarno Hatta (SHIA), lounge silver di DIA ini masih jauh lebih sederhana dibandingkan apa yang ada di SHIA. Di lantai dua ini selain lounge silver khusus penumpang Qatar Airways, juga terdapat lounge pemegang Priviledge Club gold. Letaknya tidak jauh dari silver lounge. Selain kedua lounge yang dikhususkan untuk penumpang Qatar Airways ini, juga terdapat satu lounge lagi khusus untuk beberapa maskapai yang lainnya, seperti Emirates, Etihad, dll.
Tempat makan di lantai dua yang lainnya yang bisa dicoba adalah terletak di pojok
ruangan. Letaknya di dekat wahana tempat anak-anak bisa main (kecil saja, tidak luas). Restoran ini lebih banyak menyediakan menu India/Pakistan dan Arab. Cara penyajiannya prasmanan, kita bisa memesan makanan terlebih dahulu, kemudian baru memesan minuman. Sama seperti di konter lainnya, kita bisa menggunakan mata uang selain Qatari Riyal seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Kita bisa duduk santai di meja-kursi yang di sediakan di depan konter restoran ini sambil menunggu waktu transfer selesai. Apabila
kita membawa anak-anak di bawah usia 5th, ada wahana permainan anak di dekat restoran ini. Memang tidak besar, namun mungkin cukup untuk membuat anak-anak senang sambil menghabiskan waktu. Itu pun kalau anak-anak tersebut tidak capek. Apabila kita ingin menarik uang tunai melalui ATM atau menukarkan uang lewat money changer, di dekat permainan anak-anak ini ada satu ATM dan juga money changer.
Kita tidak perlu khawatir untuk ketinggalan pesawat di saat sedang menunggu waktu transit selesai. Selain adanya update keberangkatan pesawat yang selalu disiarkan melalui pengeras suara, kita juga bisa mengecek jadwal keberangkatan pesawat melalui layar-layar monitor yang dipasang di beberap tempat. Di sana akan tertera informasi no pesawat, jam keberangkatan, dan di berangkatkan melalui gate berapa pesawat tersebut. Bagi yang lebih senang menunggu sambil duduk di ruang tunggu keberangkatan, di lantai dua juga disediakan banyak kursi. Mungkin ada beberapa di antara kita yang ingin beristirahat saja
dibandingkan jalan-jalan melihat suasana atau menikmati DIA di sela-sela menghabiskan waktu transfer. Ketika gate sudah dibuka untuk boarding, penumpang akan dipindahkan ke ruangan sementara tempat nantinya menunggu bus yang akan membawa dari terminal transfer menuju ke pesawat. Jadi seperti kedatangan di terminal transfer, untuk keberangkatan dari terminal transfer ke pesawat kembali lagi harus naik bus, bukan melalui garbarata. Dan menurut pengalaman saya, jarak tempuh dari terminal ke pesawat kadang memakan waktu tempuh 20-30 menit dengan menggunakan bus tersebut.
Demikian tulisan saya mengenai suasana transit di Doha International Airport. Semoga bisa membantu memberikan gambaran bagi anda semua yang baru pertama kali atau belum pernah transit disana.
Insha Allah minggu ke-4 bulan Oktober 2012 nanti saya melakukan perjalanan kembali dan kebetulan transit di Abu Dhabi (e-ticket seperti tampak dalam gambar di sebelah kanan). Nantikan tulisan saya berikutnya di bulan Oktober 2012 mengenai suasana transit di Abu Dhabi International Airport. Sedangkan pertengahan bulan November
2012 nanti kembali saya akan melakukan perjalanan. Kali ini Insha Allah saya akan menggunakan pesawat Emirates (e-ticket seperti nampak di gambar sebelah kiri). Dengan demikian tulisan saya di bulan selanjutnya adalah mengenai suasana transit di Dubai International Airport. Semoga apa yang akan saya sampaikan bermanfaat. Salam….
51 Responses to Suasana Transit di Doha International Airport Lama