Bagian Ketujuh Memulai Minimarket Mandiri: Strategi Memutar Modal dan Laba

Setelah kita mempunyai dan sudah bisa menentukan strategi penjualan seperti yang sudah saya singgung di tulisan saya sebelumnya di bagian keenam,  pada dasarnya minimarket kita sudah bisa sepenuhnya beroperasi. Waktu demi waktu berjalannya kegiatan operasional minimarket, tentunya akan ada perputaran modal dan laba yang kita dapatkan dari kegiatan ini sehari-hari. Pada bagian ketujuh ini saya akan mencoba membahas bagaimana strategi memutar modal dan laba dari kegiatan operasional minimarket kita. Perlu dicatat apa yang akan saya sampaikan ini adalah salah satu contoh yang saya terapkan untuk minimarket saya, yang mungkin cocok anda terapkan atau bisa juga kurang tepat untuk anda lakukan. Silahkan anda mengembangkan menurut versi anda masing-masing.

Dalam memutar modal dan laba minimarket, sangat penting untuk diingat adalah memisahkan perputaran uang tersebut dengan keperluan sehari-hari rumah tangga. Walaupun anda pemilik dari minimarket tadi, namun jangan pernah mencampuradukkan uang atau modal minimarket untuk keperluan anda pribadi. Uang yang kita dapatkan dari kegiatan operasional minimarket sepenuhnya untuk membiayai operasional sehari-hari minimarket. Pada awal berjalannya operasional minimarket kita, sangat mungkin modal akan lebih terkuras dari pada laba yang kita dapatkan. Hal ini sangatlah wajar, karena pada saat awal beroperasinya minimarket, pengeluaran akan lebih besar dari pemasukan, untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari, misalnya menggaji karyawan, biaya tilpon, listrik, sewa ruko dan tentunya belanja barang. Dari sana kita bisa membuat kalkulasi perkiraan target break event point yang akan kita patok, berapa target keuntungan dalam sehari, seminggu, sebulan supaya BEP segera tercapai, modal segera kembali, bagaimana menyisihkan uang untuk belanja barang dalam seharinya, dan lain sebagainya.

Salah satu manfaat komputerisasi minimarket dengan memasang dan menggunakan program POS untuk menunjang kegiatan operasional adalah kita bisa mendapatkan laporan keuangan dengan cepat, akurat, dan gampang. Berapa uang yang keluar dan masuk, berapa keuntungan yang bisa kita dapatkan sehari dengan price tag yang kita tentukan sekarang, apakah keuntungan tadi terlalu kecil yang menyebabkan target BEP akan semakin lama, bagaimana kalau harga per item barang kita naikkan, berapa keuntungan per hari yang bisa kita dapatkan dari kenaikan tadi, apakah kenaikan akan membuat minimarket kita dijauhi pembeli, dan lain-lain sebagainya bisa kita track dan dapatkan dari catatan yang ada di program POS tadi. Setelah sekian waktu, kita akan semakin bisa menganalisa perkembangan dan bisa mendapatkan gambaran tentang kondisi minimarket kita.

Jumlah perputaran uang dalam sehari sebaiknya digunakan untuk memodali kegiatan operasional hari berikutnya. Dari program POS akan terlihat item-item apa saja dalam hari itu yang habis atau stoknya tinggal sedikit. Uang yang didapatkan dalam hari itu, sebisa mungkin harus digunakan kembali untuk membeli barang-barang yang habis atau akan habis tadi, plus untuk menambah dan membeli item barang baru dan sisanya disisihkan sebagai keuntungan hari itu. Berapa besar porsi masing-masing dari ketiganya; membeli barang lama, mengisi barang baru, dan menyisihkan keuntungan, adalah sangat tergantung dari target keuntungan sehari yang kita patok. Berapa besaran dari target keuntungan sehari, sangat tergantung dari kalkulasi yang kita lakukan terhadap modal yang sudah kita keluarkan berbanding dengan target BEP yang akan kita capai ditambah dengan rencana ekspansi bisnis minimarket yang akan kita lakukan di tahun-tahun berikutnya.

Setelah sekian waktu tentunya diharapkan laba per hari yang bisa didapatkan dari kegiatan operasional minimarket akan bertambah semakin besar. Langkah selanjutnya adalah ada baiknya kita membuat target keuntungan per bulan. Target keuntungan per bulan inilah yang akan kita gunakan untuk kalkulasi yang lebih mendetail untuk melakukan ekspansi bisnis kedepannya. Yang saya maksudkan keuntungan adalah benar-benar murni laba, diluar modal untuk membeli item barang, menggaji karyawan, dan biaya operasional minimarket  yang lainnya. Sebaiknya laba keuntungan per bulan ini anda simpan dan sekali lagi dipisahkan dari kebutuhan pribadi. Bisa disimpan dalam bentuk tabungan di bank, atau yang lainnya. Saya lebih cenderung untuk menyimpan laba keuntungan per bulan untuk dibelikan logam mulia karena pertimbangan nilai investasi emas yang semakin naik harganya yang apabila dihitung-hitung lebih besar daripada bunga bank, dan tentunya logam mulia/emas bisa dicairkan atau dijual sewaktu-waktu. Setelah beberapa waktu, tentunya kita akan mempunyai gambaran berapa keuntungan yang bisa kita dapatkan per tahunnya. Keuntungan yang kita dapatkan tadi sebisa mungkin digunakan untuk mengembangkan usaha minimarket, misalnya menambah rak barang dan isinya, menambah karyawan seandainya minimarket kita semakin ramai, membeli asset atau menyewa ruko baru untuk membuka cabang minimarket kita di tempat lain, membeli kendaraan motor untuk delivery barang dan lain sebagainya.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, terutama untuk saya pribadi, saya selalu menyisihkan minimal 2,5% dari laba yang saya dapatkan untuk orang yang membutuhkan, karena itu hak mereka, bukan kepunyaan saya. Insha Allah dengan ikhlas bersedekah, rejeki akan terus bertambah lancar setiap harinya.

Bisnis minimarket walaupun sifatnya mandiri dan non waralaba atau non franchise, masih sangat menjanjikan. Kalau kita tidak segera mencoba untuk memulainya, maka kesempatan ini akan terus diambil oleh korporasi-korporasi yang lebih besar untuk terus melakukan ekspansi bisnis retail ini. Kenapa mereka terus berusaha melakukan ekspansi, karena mereka menyadari bisnis minimarket ini sangat menguntungkan. Tidak ada salahnya kita meniru dan mengikuti insting bisnis mereka dalam membaca peluang usaha. Bukan berarti kita akan menyaingi mereka, tentu saja kita akan kalah. Namun kita belajar membaca peluang dari apa yang mereka lalukan dan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Dalam memulai dan menjalankan sebuah bisnis usaha, kita tidak perlu takut untuk gagal sekali, dua kali, bahkan beberapa kali. Kita bisa belajar filosofi kegagalan dan semangat pantang menyerah dari seorang Thomas Alfa Edison si penemu bola lampu. Dalam usahanya menciptakan bola lampu listrik, ia melakukan ujicoba sebanyak 1000 kali; 999 kali mengalami kegagalan sampai pada akhirnya satu kali ujicoba yang terakhir berujung pada kesuksesan yang luar biasa. Hasil karyanya yang fenomenal bisa dinikmati oleh orang-orang sampai sekarang ini. Semoga usaha minimarket mandiri yang kita rintis pun akan berujung pada kesuksesan yang luar biasa, walaupun ada kalanya jatuh bangun, tapi mari kita tiru semangat pantang menyerah Thomas Alfa Edison tersebut diatas, untuk tidak gampang menyerah pada sebuah kegagalan.

About WiD

Founder&Owner jogja geowisata (www.ygeotour.com). Alumni Teknik Geologi UGM, sekarang masih bekerja di Schlumberger (www.slb.com), sekaligus menekuni sebagai Personal Blogger. Hobby: International Travel, Photography, Gourmet Cooking, Entrepreneurship, Blogging
This entry was posted in Peluang Usaha and tagged , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Bagian Ketujuh Memulai Minimarket Mandiri: Strategi Memutar Modal dan Laba

  1. qoni says:

    Siang, pak saya mau minta saran, saya baru buka mini market baru sebulan. Saya buka mn mrket dengan modal pinjam ke bank, tapi saya kurang paham dengan duit yang didapat setiap harinya, karna masih kurang menurut saya.. karena duit yang saya pinjam dr bank tidak menutupi pengeluaran dan skrg sudh habiz. jadi skrg duit yang didapat dr penjualan tidak bisa menutup tagihan dan membeli barang yang baru.. saya kurang paham dengan pembagian duitnya,. dan juga tdk bs menyisihkan duit untuk dibayar ke bank dan ke karyawan saya.. mhn nasihatnya

    • WiD says:

      Selamat malam Ibu Qoni, kedisiplinan memisahkan uang minimarket dan keperluan pribadi sangatlah penting. Disamping itu pencatatan keuangan yang baik dan teratur sangat diperlukan untuk memantau arus masuk dan keluar arus modal. Saya sangat senang untuk berdiskusi lebih lanjut tentang hal ini, mohon kirimkan pertanyaan Ibu selanjutnya ke alamat email saya widnugroho@tulisan-ringan.com.

  2. susi says:

    Siang pak saya minta saran saya sekarang buka wartung kelontong b elum bisa disebut mini market karena masih kecil,tp alhamdulillah dulu bersih dapat 3 juta perbulan karena ga ada karyawan,sekarag usaha kami sepi pemasukan bersih saja kurag dari sejuta karna byk warung serupa tumbuh mgkn 10 buah dalam ligkungan kami..perlukah. Kami pindah karena kami udahjenuh juga udah 5 tahun l kami disitu,ato perlu pembesaran warung ato. Gmn ya pak.masalahya kami udahtambah rak dan barang hasinya sama saja

    • WiD says:

      Selamat malam Ibu Susi,
      Semua jenis kegiatan usaha pasti ada persaingan dan itu sangatlah wajar dan bukan sesuatu yang harus dihindari. Seandainya Ibu pindah, tetap saja persaingan tidak bisa dihindari, karena nanti di tempat baru pun bisa jadi akan ada usaha sejenis, belum lagi Ibu harus memulai dari nol di tempat yang baru tersebut. Menurut hemat saya Ibu tetap di tempat sekarang namun sebisa mungkin menggali potensi apa yang bisa Ibu kembangkan di warung Ibu yang pembeli-pembeli tersebut tidak bisa menemukan apabila berbelanja di kesepuluh warung di sekitar warung Ibu. Menambah rak dan barang adalah salah langkah tepat yang sudah Ibu lakukan. Namun apakah hanya cukup dengan itu? Ibu sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk melakukan survey sederhana kira-kira apa yang tidak bisa Ibu temukan di warung-warung saingan Ibu. Hanya dengan melakukan langkah tersebut, Ibu akan mendapatkan gambaran lebih jelas, potensi apa yang bisa Ibu optimalkan semaksimal mungkin supaya para pembeli banyak yang datang di warung Ibu, dan bukan berbelanja di tempat lain. Salam – WiD

  3. askar says:

    malam pak. selama ini saya menekuni usaha fotocopy, cetak foto. pada awalnya cuma saya yg punya usaha fotocopy, naman sekarang sudah terhitung 4 yang buka usaha fotocopy. saya kalah bersaing sebab pangsa pasar saya yang dulunya terdiri dari kepala sekolah dan 1 kantor pertanian sudah diambil alih oleh pesaing saya yg kebetulan punya wewenang di instansi konsumen saya (satu pesaing saya Koperasi Pegawai Negeri dan 2 lagi punya jabatan di dinas pertanian) hanya saja ketiga pesaing saya tidak ada usaha cetak foto. tidak tertutup kemungkinan suatu saat akan muncul pesaing saya dibidang yg sama. baru-baru ini saya beli alat cetak stempel dan cutter stiker. walau ada konsumen tapi sangat sedikit. sekarang difikiran saya mau melirik bisnis mini market dengan modal awal stok barang yang ada dan mencoba menambah sedikit demi sedikit seiring perjalanan usaha. selama ini saya sudah coba inventarisasi barang dan perputaran hasil usaha tetapi sepertinya sangat sulit sehingga saya malas melanjutkannya. tetapi kadang saya kepingin lagi. saya tertarik dengan ulasan bapak disini. saya minta pendapat/saran bapak tentang niat saya ke minimarket. dengan sistem komputerisasi bisakah usaha penjualan barang dan jasa disatukan? dan sejauh mana progam POS yg gratisan dari internet bisa dipakai?. terima kasih sebelumnya. wassalam

    • WiD says:

      Selamat malam Pak Askar, dalam berwirausaha yang paling penting adalah niat, keuletan dan kemauan berusaha keras. Dari keterangan yang Bapak sampaikan, ketiga sifat itu saya yakin ada dalam diri Bapak. Saya belum pernah membaca atau mendengar seseorang yang menjadi besar dengan seketika, namun semuanya dimulai dengan usaha keras, berawal dari nol dan jatuh bangun. Saya yakin Bapak pernah membaca atau mendengar kisah bagaimana pendiri Google memulai usahanya. Mereka berawal dari 2 komputer bekas dan menggunakan garasi mobil sebagai kantornya. Dan sekarang kita lihat bersama betapa suksesnya mereka. Tidak usah jauh-jauh memikirkan usaha kita akan sebesar Google. Yang perlu kita pelajari dari mereka adalah semangat untuk terus maju, berinovasi, dan tahan banting dalam mengembangkan usaha. Kita mulai dan kembangkan usaha semampu kita terlebih dahulu. Dan setahap demi setahap kita tambahkan apa yang kurang. Selalu belajar dan berinovasi supaya apa yang kita kembangkan mempunyai nilai lebih dari usaha-usaha sejenis di sekeliling kita. Usaha minimarket tidak harus berjalan dengan segala sesuatunya serba lengkap. Jalankan dengan apa yang ada sekarang. Misalnya kalau saat ini belum bisa dilengkapi dengan program POS, tidak perlu dipaksakan. Kita tambahkan pada saatnya nanti setelah memang dirasa perlu dan mampu untuk mengadakan program POS. Kalau saat ini baru beberapa item yang bisa kita sediakan di minimarket, tidak perlu kemudian berpikiran minimarket kita kurang lengkap. Kita tambahkan perlahan-lahan. Saya belum pernah dengar ada program POS gratisan Pak. Seandainya memang pada nantinya kita akan menambahkan program POS, saya sarankan lewat penyalur atau agen resmi yang memang khusus mengembangkan program POS tersebut, karena faktor service seandainya ada masalah kita bisa sewaktu-waktu mengontak mereka atau kalau misalnya ada menu-menu tambahan maka kita bisa mintakan ke mereka untuk ditambahkan ke program POS tadi. Kemudian jangan menginstal program POS bajakan, karena kasihan orang yang sudah susah payah membuat program tadi :). Salam wirausaha dan sukses selalu

  4. dwi anggraeni says:

    ass,,, kami ingin curhat pak,,,, mengenai minimarket pak,,

  5. cici says:

    saya pngn mnt pendapat bpk apakah bs saya buat minimarket drmh saya,kebetulan saya baru bl rmh rencanya 1 ruangan 3×4 mo saya buat minimarket.kr2 brp item brngnygnbs sy jual. dan modal brp kr2 saya hrs pnya…kebetuln ni usaha pertama saya. mhn infonya. trims

    • WiD says:

      Selamat siang Ibu Cici,
      Salah satu yang saya amati, kadang banyak diantara kita takut untuk memulai usaha dengan apa yang kita punya. Sebenarnya kita bisa memulai usaha kapan saja. Kembali ke pertanyaan Ibu, tentu saja Ibu bisa memulai usaha kapan saja walaupun ruangan yang Ibu miliki sekarang hanya seluas 3×4 meter2. Dulu kurang lebih tahun 2002 saya memulai usaha minimarket dari sebuah ruangan kecil, juga dari sebuah rumah yang baru pertama kali saya beli. Rumah itu ada car port-nya (garasi). Karena waktu itu saya tidak mempunyai mobil, oleh karenanya kemudian car port itu saya rubah menjadi warung, ukurannya kurang lebih 3×4 m2 juga. Yang saya lakukan adalah memesan 2 rak kaca untuk saya tempatkan di ruangan itu, membentuk huruf L, satu rak di samping, dan satu rak di depan. Saya ingat betul, awal pertama kali warung saya berdiri, kedua rak itu hanya saya isi dengan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti sembako, keperluan mandi, sabun, pasta gigi, dan makanan/jajanan anak-anak, beberapa jenis aneka minuman, dan air galon. Seiring berkembangnya waktu, ketika pembeli datang ke warung kita dan mencari sesuatu namun tidak tersedia, hari berikutnya saya berusaha untuk mengisi dengan barang yang dicari pembeli tersebut. Jadi apapun input yang kita dapatkan dari pembeli, kita coba penuhi di hari-hari berikutnya. Dengan demikian semakin lama, isi dari warung kita akan semakin lengkap. Seiring berkembangnya waktu, karena warung tersebut sudah tidak bisa memuat barang yang semakin bertambah, akhirnya Alhamdulillah saya bisa membeli sebuah rumah lagi khusus untuk saya jadikan minimarket betulan. Bottom line yang ingin saya sampaikan disini adalah, Ibu jangan perlu khawatir untuk segera memulai usaha minimarket, walaupun ruangan yang Ibu miliki sekarang baru berukuran 3×4 M2. Insha Allah pada suatu ketika nanti usaha Ibu akan semakin berkembang. Untuk diskusi lebih lanjut, dengan senang hati, silahkan Ibu bisa menghubungi melalui email saya di widodo.nugroho@gmail.com ataupun melalui YM saya pada saat saya sedang online, dengan melihat tanda online di menu “Saling Sapa” di panel sebelah kanan blog saya ini. Terima kasih..

  6. rudy says:

    Assalamualaikum pak,

    Pak saya sedang merintis usaha minimarket dengan modal minim, sekarang baru tahap finishing pembangunan dan sedang persiapan pemasangan rak, namun ternyata ridak jauh dari tempat yang sedang kami bangun ada juga yang sedang membangun usaha yang sama dengan modal kuat, bagaimana kami harus menyikapi hal ini pak, karna belum sempat buka malah dah ada yg nyaingi.

    Wassalam

    • WiD says:

      Walaikumsalam Pak Rudy,
      saya sangat memahami kekhawatiran Pak Rudy dan itu sangat wajar dan mungkin saya pun akan mempunyai perasaan yang sama jika saya berada di posisi Pak Rudy. Namun begini Pak, menurut hemat saya, segala macam bentuk usaha pasti ada sisi persaingan dan konflik dengan usaha yang dijalankan oleh orang lain. Tinggal bagaimana kita bisa memenej persaingan-persaingan yang ada menjadi sebuah bentuk pemicu semangat kita untuk lebih bisa berkreasi dengan demikian usaha yang kita jalankan mempunyai nilai lebih daripada usaha sejenis yang ada di sekeliling Bapak. Menurut hemat saya, Pak Rudy jangan sampai menghentikan usaha yang sekarang Pak Rudy sedang rintis, tetap jalankan rencana seperti semula. Modal yang kuat memang penting untuk menjalankan usaha, namun begitu di dalam menjalankan usaha minimarket, tidak hanya modal yang diperlukan untuk menjamin usaha tersebut maju, dibutuhkan juga kejelian memahami kemauan konsumen, bagaimana kita bisa memberikan pelayanan yg lebih baik daripada usaha sejenis di sekeliling kita, bagaimana pembeli merasa lebih nyaman dan senang belanja di tempat kita, bagaimana kesan mereka terhadap harga-harga barang-barang yang dijual di tempat kita. Karena sama-sama sedang menyiapkan prasarana fisik baik Bapak sendiri maupun “saingan” Bapak, ada baiknya Pak Rudy melakukan start terlebih dahulu yaitu dengan melakukan riset kecil-kecilan, tentang kondisi calon pembeli di sekitar lokasi yang sedang Pak Rudy bangun. Saya menulis secara sederhana kira-kira riset sederhana seperti apa yang bisa kita lakukan untuk mengenal calon konsumen kita tadi. Bapak bisa membacanya di blog ini juga judulnya,”Bagian Pertama Memulai Minimarket Mandiri: Mengenal Segmen Pasar”. Semoga ulasan saya membantu memberikan ide kepada Pak Rudy. Salam berwirausaha…

  7. sri indrayani says:

    mas wid, ceritain dong kenapa milih minimarket sebagai salah satu usahanya? Bagaimana cara mengembangkan usaha ini? Terimakasih saya udah baca semua, tulisan mas wid bagus, bahasanya mudah di pahami dan yang terpenting bermanfaat bagi kami yang membacanya…

    • WiD says:

      Terima kasih kembali mbak Yani sudah berkenan mampir di blog saya. Kenapa saya memilih minimarket sebagai salah satu usaha saya? 1) usaha minimarket yang saya jalankan adalah minimarket mandiri, bukan waralaba. Artinya saya bisa tetap menjalankan usaha tersebut sesuai dengan kemampuan saya dengan dana seberapapun yang saya punya. Saya bisa menjalankan usaha ini dimanapun saya mempunyai lahan, walaupun itu sebuah petak/garasi mobil di rumah. Dan memang benar adanya. Dulu saya mengawali usaha minimarket ini di garasi mobil berukuran 3x3m, dan Alhamdulillah sekarang sudah berkembang benar-benar menjadi sebuah minimarket. 2) saya meniru jejak pengusaha-pengusaha sukses dan besar. Mereka terus saja mengembangkan usaha ritel baik hipermart maupun minimart. Kalau mereka terus saja mengembangkan sayap usahanya di bidang ini, berarti menurut insting bisnis mereka, usaha di bidang ini menjanjikan. Saya tidak harus bersusah-payah mencari celah bisnis apa yang kira-kira menjanjikan, saya tinggal mengikuti jejak pihak atau orang yang memang ahlinya di bidang wirausaha. Tentu saja saya tidak bisa menyaingi mereka, namun saya yakin pasti bisa mencari celah-celah supaya tidak berbenturan head-to-head ketika saya harus menjalankan usaha minimarket ini. Saya tentunya sangat senang sekaligus bahagia, apabila apa yang saya tulis dan bagikan di blog ini bisa memberi manfaat kepada orang lain…:)

  8. sigit budiarto says:

    ass. Pak Wid,
    saya kirim email ke alamat pribadi bapak,.. mohon di tanggapi ya pak.. nuwun
    salam, smg sehat bahagia sejahtera. amiin

  9. Ass.Wr.Wb
    Salam kenal pa.Widodo

    Perkenalkan saya juga bloger yang bermukim di http://blognoerhikmat.wordpress.com (masih gratisan pak..), kebetulan saya browsing bisnis minimarket dan ketemu postingm p’wid.
    Menyimak tulisan p.wid tentang bisnis minimarket mandiri di blog ini , takjub rasanya melihat keikhlasan bpk untuk berbagi seluk beluk bisnis minimarket. Semua diceritakan begitu jelas, jujur, informatif dan menyemangati, membuat pembacanya menjadi penasaran dan ingin mencobanya.
    Kebetulan posting p’wid sama juga dengan passion saya di dunia ritel dan sudah menjadi perjodohan saya di dunia ritel menjadi praktisi didalamnya. Apa yang p’wid ceritakan mulai dari tahap ke 1 sampai tahap ke 7 memang benar adanya, pengalaman tersebut memang secara teori ritel pasti diterapkan oleh peritel besar juga. Dengan niat, fokus dan terus belajar adalah modal dasar salah satu kunci sukses bertahan di bisnis ritel, p’wid sudah ceritakan itu semua. Bahkan mungkin saja kalau saya diminta menuliskan apa yang saya kerjakan di bidang ritel, mungkin tidak bisa secair cerita seperti p’wid. Pada kesempatan ini, saya juga minta ijin ke p’wid untuk menjadikan postingan ini sebagai rujukan saya sebagai testimoni tentang bisnis minimarket yang sedang menjamur. Ditunggu pula posting2 ritel selanjutnya dari p’wid yang pastinya menarik.

    Salam Ritel

    Budi Nurhikmat
    http://blognoerhikmat.wordpress.com

    • WiD says:

      Walaikumsalam Wr Wb
      Salam kenal kembali Pak Budi..
      Siapp Pak, silahkan dengan senang hati kalau seandainya tulisan saya ingin dibagikan ke yang lainnya. Malah saya ikut berterima kasih kalau apa yang saya tulis ini bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain dan bisa disebarluaskan secara gratis kepada siapapun yang mungkin membutuhkan. Saya hanya minta disebutkan nama saya dan alamat blog saya saja sebagai penulis asli dan asal muasal tulisan ini pertama kali dituangkan :)

  10. ok..thanks pa’wid,
    blog tulisan-ringan.com sudah nangkring di blog.inspirasiku
    http://blognoerhikmat.wordpress.com/link-2/link/

  11. franseda says:

    mkasih ya pak atas ilmunya.sungguh bysk skli mamfaatnya..

  12. Rahmatul Hidayat says:

    Assalamualaikum
    Pak Wid yang terhormat
    sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas tulisan bapak yang sangat informatif ini.
    Namun ada hal yang ingin saya tanyakan seputar tahap ke tujuh ini pak
    bapak menyebutkan tentang jangan mencampur adukkan laba dengan kebutuhan pribadi
    jadi berapa persen dari laba yang bisa saya ambil kira2 untuk biaya hidup sehari2 nya pak…
    terima kasih

    • WiD says:

      Walaikumsalam Pak Rahmat, sama-sama Pak terima kasih kembali. Menurut saya tidak ada prosentase pastinya Pak..semuanya akan berjalan dengan sendirinya menyesuaikan dengan kondisi dan pertimbangan terbaik dari masing-masing pelaku usaha. Maksud saya begini, bagaimananpun kita harus berani mencoba, trial dan error kira-kira berapa yang harus kita sisihkan dari laba tersebut yang benar-benar peruntukannya hanya untuk membesarkan usaha dan berapa banyak yang bisa kita nikmati untuk kebutuhan pribadi kita. Seiring dengan berjalannya waktu kita akan mempunyai nilai median statistik yang semakin baik kira-kira idealnya berapa nilai prosentase masing-masing tersebut. Pelaku usaha A mungkin berbeda pandangan dan pertimbangan dengan pelaku usaha B untuk menyisihkan seberapa banyak prosentase masing-masing tersebut. Namun pada intinya dan yang paling penting adalah kita harus mempunyai target untuk menyisikan dari laba yang peruntukannya tidak boleh diganggu gugat selain hanya untuk membesarkan usaha. Seberapa banyak itu? sekali lagi tergantung kepada best practice atau pengalaman kita dalam trial dan error seperti yang saya sebutkan di atas. Kalau kita tidak berani menyisihkan laba, maka usaha kita akan berjalan di tempat, hanya itu-itu saja, karena tidak ada dana untuk menjadikannya lebih besar. Terima kasih..

  13. Arie says:

    Assalamualaikum pak Wid..
    Saya minta pendapat dari pak Wid,saya punya kios kecil ukuran 3×4 m,lokasi disebelah BankBRI,kebanyakan teman2 saya menyarankan untuk membuka rumah makan,tapi saya lebih yakin untuk buka minimarket kebetulan belum ada saingan.sementara saya mulai dgn jual pulsa,rokok,dan minuman ringan.alhamdulillah dgn modal Rp300rb,saya dpt omset Rp.100rb/hari.keuntungan Rp.20rb.lalu saya ditawari pinjaman uang dari Bank Rp.10jt.apakah saya ambil uang trsbut atau saya tetap memutar modal awal sampai usaha saya berkembang..?

    • WiD says:

      Waalaikumsalam Pak Arie, Alhamdulillah saya ikut senang dengan usaha Bapak yang sudah berjalan dan memberikan omset dan keuntungan. Jangan dulu dilihat dari skala besar dan kecilnya omset dan keuntungan yang Bapak terima sekarang ini, tetapi bersyukur karena usaha Bapak sudah berjalan dan memberikan keuntungan. Artinya kios Bapak sudah dikenal pembeli, dengan kata lain Bapak sudah mempunyai pelanggan. Salah satu tantangan terbesar ketika seseorang memulai usaha adalah bagaimana cara mencari pelanggan. Ketika usaha kita sudah dikenal oleh pembeli dan semakin hari jumlah pembeli semakin banyak berdatangan, maka suatu saat akan sampai pada waktunya ketika pembeli-pembeli tersebut menanyakan ragam barang dagangan yang dijual di kios kita. Kalau semakin sering pembeli menanyakan barang dagangan yang ternyata tidak ada atau tidak tersedia di kios, maka boleh jadi semakin hari dan semakin lama pembeli-pembeli tersebut akan lari dari kios kita. Pembeli yang satu akan menceritakan kepada pembeli yang lainnya, ehh itu kiosnya barangnya ga lengkap, mending kita beli di tempat lain saja, dsb dsb, yang boleh jadi cerita dari mulut ke mulut yang secara tidak langsung semakin lama akan berkembang menjadi ‘marketing negatif’. Nah untuk melengkapi barang-barang yang kita jual di kios, tidak ada salahnya Bapak menerima tawaran pinjaman dari bank tersebut. Nilai plus yang sekarang Bapak miliki, yaitu belum ada saingan dari usaha yang sejenis, bisa Bapak manfaatkan pada nantinya untuk menarik lebih banyak pembeli. Modal pinjaman yang Bapak terima, bisa Bapak manfaatkan untuk memperbesar skala kios dan memperbanyak serta melengkapi barang dagangan yang disediakan dan dijual di kios Bapak. Barang-barang apa saja yang perlu Bapak tambah, nah itu bisa didasarkan data atau statistik yang sering Bapak temukan, kira-kira barang apa saja yang sering ditanyakan pembeli tetapi sering pula tidak ada di kios, dan atau barang yang selalu habis dengan cepat dibeli oleh mereka. Dengan berdasarkan kondisi sekarang ini, Bapak bisa melakukan kalkulasi, forecast atau perkiraan seandainya Bapak melengkapi barang-barang dagangan kira-kira berapa tambahan omset dan laba yang akan Bapak terima setiap harinya. Dengan demikian ketika bank memberikan pinjaman 10jt, kira-kira setiap bulannya cicilan bisa terjangkau atau tidak, memberatkan atau tidak. Setahu saya sekarang banyak bank yang mempunyai program dengan memberikan pinjaman kepada UKM dengan syarat yang tidak memberatkan. Niscaya dengan menambah modal melalui pinjaman bank, dengan pengelolaan pinjaman yang baik, usaha Bapak bisa semakin berkembang dan bertambah besar. Sukses selalu dan salam berwirausaha..

  14. sudarmo says:

    selamat malam pak wid ….
    Maaf klo mengganggu . Sy tertarik dlm usaha ini dn sy berangan angan pingin memiliki usaha minimarket…posisi skrang saya sedang bekerja di korea dn sy berenca sepulang dri korea mau membuka usaha minimarket tpi yg jdi kendala sy masi awan dlm mnjlankn usaha ini terutama dlm mncari stok barang …sy dulu pernah kerja di alfamart tpi di bagian DC ny atau di gudang…rencana sy pingin buka usaha minimarket mandiri di kampung tpi dikampung ud ad alfamart dn indomart bhkan warung eceran maupun grosir berjejer distiap sudut jalan ….nah yg minta saran dri bpk langkah ap yg sy lakukan tuk memulai usaha ini.

    • WiD says:

      Selamat malam Pak Sudarno. Seri tulisan tahapan mendirikan minimarket saya tulis dari bagian pertama sampai bagian delapan. Seandainya Pak Sudarno belum sempat membaca dari awal, silahkan Bapak kunjungi tahap demi tahap tulisan tersebut, karena saya mencoba menuliskan dengan bahasa yang semoga mudah dimengerti oleh orang kebanyakan bagaimana langkah-langkah dan strategi mendirikan minimarket non waralaba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>