Tulisan ini menyambung beberapa tulisan saya di posting sebelumnya, yaitu tentang sharing pengalaman naik beberapa maskapai internasional baik di kelas ekonomi maupun kelas bisnis. Beberapa waktu yang lalu saya sempat menuliskan pengalaman suasana naik kelas ekonomi Emirates dan suasana duduk di kelas bisnis Qatar Airways. Sekali lagi perlu saya tekankan, bahwa apa yang saya tulis dan bagikan adalah semata berbagi pengalaman dan cerita saja, tidak bermaksud untuk menyombongkan diri dengan harapan semoga tulisan saya tadi bermanfaat untuk siapa saja yang membutuhkan informasi. Hari Kamis, 6 Juni 2013 kemaren saya berkesempatan naik kelas bisnis Emirates EK-356 dari Dubai menuju Jakarta.
Pesawat EK-356 yang saya naiki kemaren menggunakan armada Boeing 777-300, dengan interior tempat duduk di kelas bisnis 2-3-2 dan di kelas ekonomi 3-4-3. Pesawat di berangkatkan pukul 4 pagi waktu Dubai. Tentu saja naik di kelas bisnis dalam perjalanan panjang Dubai-Jakarta akan terasa lebih menyenangkan, karena saya bisa beristirahat dan tidur lebih nyaman di dalam pesawat. Saya duduk di seat 5K, pinggir jendela. Menurut saya, duduk di deretan kursi di pinggir akan terasa lebih nyaman dari pada duduk di deretan kursi di tengah, karena di tengah ada 3 kursi, serasa personal privilege kurang begitu terjaga. Dengan duduk di deretan kursi baik yang di pinggir kiri ataupun kanan, kita serasa lebih bebas mau melakukan apa saja tanpa merasa risih dengan penumpang di samping kita.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, interior kursi kelas bisnis maskapai Emirates
adalah 2-3-2, 2 kursi di pinggir kanan dan kiri dan 3 kursi di tengah. Jarak antar kursi dibatasi oleh lengan kursi yang cukup lebar, jarak ruang kaki sangat lebar karena didesain untuk bisa memuat badan kursi ketika kursi direbahkan 180 derajat. Di depan masing-masing kursi terdapat layar TV 22 inch, touch screen, dilengkapi dengan anakan kursi untuk memuat beberapa dokumen seperti lembar petunjuk keselamatan penerbangan, katalog duty free dan in flight entertainment, majalah Emirates, dan sebotol air mineral.
Di layar TV kita bisa memilih beberapa menu pilihan program unggulan in flight
entertainment yang diusung Emirates. Seperti yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya, Emirates mengusung tema ICE sebagai program unggulan mereka. ICE kepanjangan dari Information, dimana kita bisa melihat dan menikmati berbagai macam informasi seperti berita dari BBC; kemudian Communication, dimana kita bisa mengirim, menerima, atau melakukan panggilan atau text message selama di dalam pesawat, dan yang terakhir Entertainment yang maknanya kita bisa menikmati beberapa macam hiburan seperti melihat TV, nonton film-film terbaru, mendengarkan musik, dan lain sebagainya di dalam pesawat Emirates.
Di lengan kursi, terdapat remote control untuk mengatur apa yang akan kita tampilkan di
layar TV. Remote control ini bermanfaat apalagi pada saat kita duduk bersandar atau rebahan, sehingga tidak memungkinkan kita meraih touch screen yang ada di layar TV untuk mengatur menu pilihan. Ada 2 macam remote control yang ter-attach di tangan kursi, satu remote control yang kecil (sayang tidak ter-photo) dan yang satunya remote control yang bentuknya semacam tablet dan touch screen. Tablet ini selain bisa digunakan untuk mengatur menu di layar TV, juga bisa untuk melakukan penyetelan yang lainnya, seperti men-setting
rebahan dan sandaran kursi dan mematikan lampu baca. Rebahan kursi bisa di-set untuk 3 kondisi, pada saat pesawat mau terbang dan mendarat, pada saat kita mau makan, dan pada saat kita mau tidur. Sayangnya kursi tidak dilengkapi dengan alat pemijat, seperti halnya ketika saya naik kelas bisnis Qatar Airways, saya bisa mengaktifkan massage machine di kursi yang saya duduki jadi perjalanan serasa lebih nyaman lagi. Yang beda di kelas bisnis Emirates dibandingkan Qatar Airways adalah selain selimut, kita juga dibagikan alas tidur seukuran lebar dan panjang kursi, sehingga rebahan di kursi akan serasa lebih empuk dan nyaman, seempuk seolah kita rebahan di kasur tempat tidur di rumah.
Untuk headphone yang dibagikan di kelas bisnis Emirates, sama halnya di kelas bisnis
Qatar Airways, headphone-nya dilengkapi dengan noise cancelling untuk memberikan suasana hening dan hanya suara dari arah TV saja yang terdengar di telinga kita, bukan suara-suara dari sekitar. Pengaturan volume bisa dilakukan melalui tablet remote control, remote control kecil atau melalui layar sentuh di monitor. Semua didesain sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan kepada para penumpang kelas bisnis selama dalam perjalanan.
Sekarang saya akan membahas menu makanan yang disajikan di kelas bisnis Emirates. Mungkin sudah menjadi sebuah layanan standard di beberapa maskapai penerbangan internasional, ketika penumpang kelas bisnis sudah duduk di kursi masing-masing, FA (Flight Attendance) akan menawarkan berbagai menu welcome drink, baik yang beralkohol maupun minuman non alkohol, tinggal kita memilih sesuai dengan selera kita masing-masing. Kalau saya seperti biasa milih orange juice heheh..
Sama halnya di Qatar Airways, FA akan menanyakan apakah saya akan sarapan sesaat
setelah pesawat sudah lepas landas. Kemaren saya melihat buku menu yang tersedia di kantong kursi kelas bisnis Emirates dikemas tidak semewah buku menu yang ada di Qatar Airways. Walaupun mungkin isi menunya juga standard, kedua maskapai menawarkan menu di kelas bisnis yang hampir sama. Sebelum menu sarapan dikeluarkan, FA akan menawarkan snack berupa kacang-kacangan yang isinya antara lain kacang mede, pistachio dan lainnya.
Waktu sarapan tiba, FA kembali berkeliling menanyakan kepada penumpang di kelas bisnis apakah akan mulai sarapan pagi. Menu sarapan pagi berupa croissant dan roti-roti lainnya, ditemani dengan slice fruit, yoghurt, selai, coklat, dan minuman. Roti boleh minta tambah kapan pun kita mau. Juice, teh, kopi, minuman beralkohol akan ditawarkan oleh FA dengan cara berkeliling. Ketika duduk di kelas bisnis, minuman yang saya pilih ketika sarapan biasanya teh pahit english breakfast, orange juice dan air putih.
Waktu makan siang sudah tiba. Saya tandai ketika di layar monitor pesawat terlihat sudah memasuki kawasan pulau Andamanan di samudra Hindia atau sesaat sebelum memasuki selat Malaka, FA akan berkeliling kembali menanyakan menu apa yang akan kita pilih untuk santap makan siang; ada menu pembuka, utama, dan menu penutup.
Untuk menu pembuka, saya memilih menu roasted chicken, di bawahnya disajikan
dengan noddle, ditemani roti, salad, butter, dan olive oil. Menu utama berupa beef steak disajikan dengan rebusan paprika, wortel, dan mentimun. Saya terus terang kalau
makan siang ga pernah melalui perbagai macam tahapan harus ada menu pembuka, utama, dan penutup, biasanya ya ambil nasi di dapur, campur sayur di atas nasi, kalau ada sambel ya dicolekin sambel, ditambah kerupuk..sudah deh jadi menu makan siang hehe. Sebagai menu penutup saya memesan irisan beberapa buah, antara lain ada melon, semangka, nanas, stroberi, anggur, dan buah ceri. Alhamdulillah perut kenyang, gimana ga kenyang, makan siangnya sampai 3 kali gitu hehehe. Samping saya duduk seorang bule. Saya ga tau pendapat dia tentang saya bagaimana, karena saya sering motret-motret pakai kamera blackberry suasana di sekitar tempat duduk saya. Monitor saya photo, lengan kursi saya potret, tiap kali menu makanan datang saya ambil gambarnya. Mungkin si bule di dalam hatinya berkata, ini anak kampungan banget sih, baru pertama kali naik kelas bisnis kali ya..hahaha. Ya kalau si bule punya pendapat seperti itu tentang saya, cuekin saja, orang ga kenal juga, lagian yang paling penting saya mendapatkan gambar-gambar untuk bahan postingan di blog :).
Terakhir yang akan saya ceritakan adalah goodies atau souvenir yang saya terima dari
kelas bisnis emirates. Hampir sama dengan Qatar Airways, Emirates membagikan satu dompet eksklusive yang berisi peralatan traveling, parfum dan handbody merk Bvlgari, sisir, sikat gigi, odol, pencukur, dan
tisu. Menurut saya dompet yang saya dapatkan dari kelas bisnis Emirates lebih bagus dan ukurannya juga lebih besar, dibandingkan dompet yang sama yang saya terima dari kelas bisnis Qatar Airways. Namun ada satu hal dimana kelas bisnis Qatar Airways sedikit lebih unggul dalam urusan bagi-membagi souvenir kepada para penumpang kelas bisnis, yaitu Qatar Airways juga membagikan satu set piyama (baju dan celana tidur) bertuliskan Qatar Airways, walaupun mutu bahan kainnya seadanya juga, tetapi yang penting kan mereka sudah berbaik hati membagi-bagi piyama secara gratis hehe.
Demikian tulisan saya mengenai suasana duduk di kelas bisnis Emirates. Semoga bermanfaat terutama bagi anda yang baru pertama kali akan naik di kelas bisnis Emirates….